- Inspirasi, lainnya, Solusi

⭕️ *HIDUP SEMAKIN TENTRAM dengan memahami HAKIKAT GERAKAN THAWAF* 🕋

Bulan berthawaf mengalihkan bumi ke Arah Kiri (berlawanan arah jarum jam).

Elektron melakukan thawaf menyelesaikan inti atom juga dikumpulkan ke arah Kiri.

Orang yang berhaji dan umrah pun ternyat berthawaf melintasi Rumah-Nya ke arah kiri. Walau ada beberapa jamaah yang kurang santun, berputar melawan arus, nekad menerobos arus Thawaf, hanya karena hanya-mata mau mencium Hajar Aswad, terjebak syariat, lupa akan hakikat.

Arah perputaran thawaf yang benar-benar dapat berubah menjadi arah Kiri. Jika Anda mengendarai motor, maka belok ke kiri akan lebih nikmat dari kompilasi belok ke kanan.

Itu karena jika Anda mengaduk kopi aduklah dengan memutar ke kiri, rasanya di syaa Allah  akan lebih nikmat, lebih dari gerakan “Sa’i” dalam mengaduk kopi, di syaa Allah pasti lebih menyukai rasa kopinya. Hehe. Coba aja. Tapi kalau mau kopinya gak terlalu pahit, cukup disiram aja dengan udara mendidih tanpa diaduk, di-wuquf-kan saja apa adanya.

Kembali ke gerakan thawaf, ternyata DIA sudah membuat desain yang selaras dan indah yang semuanya akan berputar dan berjalan sesuai skenario-Nya.

Dalam bahasa Sunda mah , “rumah” disebut sebagai “bumi”. Jika bulan mengubah bumi, maka Anda yang berhaji dan berumrah ibarat bulan terang bercahaya yang sedang menyelesaikan rumah (Bumi / Bait) -Nya.

Karena wajar jika Anda sering thawaf di Baitullah maka jiwa dan wajah Anda akan semakin terang bercahaya, sebab telah meningkatkan bahkan membebaskan diri Anda dari berbagai sampah hati atau dosa yang selama ini masih bersemayam di jiwa dan menyuramkan wajah Anda.

Bulan mengitari Bumi karena Bumi lebih besar / daya tarik / magnet-nya dari Bulan.

Allah melalui Bait-Nya dikitari atau diputari atau dithawafi oleh para tamu-Nya karena Allah memang satu-satunya sumber Magnet utama di jagat raya ini, sehingga semua orang tertarik dengan-Nya. Itu artinya hampir semua orang yang pernah ke Tanah Haram, pasti suka ditarik-tarik jiwanya untuk terus kangen dan ingin kembali ke sana, bertamu ke-Nya, mencari-Nya, mencari dan mencari DIA lebih dekat lagi di saat Multazam Ka’bah Rumah- Nya.

Nah, apa yang kita lakukan saat ini? Apa yang menarik-narik jiwa kita selama ini?

Apakah:

Harta?
Tahta?
Wanita?
Senjata?
Wisata?
Cinta
Berita?

Tak kenal maka tak tertarik . Tak tertarik maka tak suka. Tak suka maka tak kagum. Tak kagum maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Tak cinta maka tak percaya. Tak percaya maka tak disetujui. Tak dihitung maka tak ta’at. Tak ta’at maka tak dekat. Tak dekat maka tak ingat. Tak ingat maka tak tenang .

Tahulah kita siapa yang bisa kita pertontonkan sekarang? Yaitu menyenangkan atau apapun yang sering menarik-narik jiwa kita untuk dikagumi, dicintai, dipercayai, dita’ati, didekati ….

Semoga hati kita ini selalu dibuka oleh rasa kagum atas dikirim-Nya, kebesaran-Nya, terima kasih sayang-Nya. Dan semoga rasa kagum kita ini menjadi washilah  agar DIA menarik kita dengan cara-Nya yang indah menuju Baitullah yang Gagah dan Jannah yang Indah.

Semakin dekat kita dengan Baitullah maka semakin efektif dan efisienlah gerakan thawaf yang kita lakukan. Sementara orang-orang yang jauh dari Baitullah semakin lelah dan lama bergerak semakin sulit.

Ini adalah gambaran dari yang sebenarnya kita akan semakin efektif bergerak di-Nya bila kita benar-benar dekat dengan Allah. Tidak mudah lelah, tapi hasilnya dahsyat. Allah _kan_ Sangat Sibuk, Allah kan  banyak proyek, jadi kita dekat dengan Allah pasti akan “kecipratan” proyek dari Allah, banyak, halal dan berkah.

Tetapi jika seseorang jauh dari Allah, maka ia telah bekerja dengan keras, namun tetap siap untuk mengatasi kekurangan. Meskipun sudah cerdas, tetap saja akalnya mampu menemukan solusi yang benar dan menentramkan.

Sahabat Jlebb,

Yang bermagnet besar dithawafi oleh yang bermagnet kecil. Yang berjiwa besar dithawafi oleh yang berjiwa masih tersisa atau masih berproses untuk semakin besar.

Dalam kehidupan realita yang asli (akhirat), maka yang dithawafi bernama ROBB, yaitu ALLAH, dan yang menthawafi bernama HAMBA.

Tapi dalam kehidupan realita yang fana (dunia), maka yang dithawafi disebut sebagai Imam atau Pimpinan atau Pemimpin, yang menthawafi disebut sebagai makmum, pengikut atau pengikut.

Di dunia ini kita adalah Imam dan Makmum sekaligus. Imam bagi istri dan anak-anak kita, dan makmum bagi pemimpin kita di perusahaan atau di Negeri ini. Hanya saja kita sering lupa diri tentang hubungan antar kita hanya sebagai iman dan makmum, bukan sebagai Hamba dan Tuhan.

Jangan sampai menyanyikan “Imam” diterima sebagai Tuhan yang wajib dita’ati, dicintai, diterima lebih dari Allah. Dijadikan tempat yang dibutuhkan selain dari Allah. Dan jangan pula menyanyikan “Makmum” sampai tidak boleh ada yang menyanyikan Imam. Makmum pun jangan menjadikan Imam / pimpinan sebagai tempat yang mengandalkan, sebab hanya Allah lah yang Ash Shomadu .

Maka bisa binasalah iman seseorang jika ia menganggap bahwa itu adalah tempat yang diperlukannya orang lain, atau sebaliknya, jika ia memercayai apa yang dimaksud dengan gambar itu sebagai tempat ia bergantung selain Allah.

Sahabat Jlebb,

Gerakan Thawaf dari kanan ke kiri melintasi Baitullah membentuk Lingkaran atau Angka Nol  yang sedang melakukan Satu Titik , hal ini mencerminkan para hamba yang nol sedang beribadah menyembah Tuhan Yang Satu / Tunggal / Ahad.

Artinya yang Ahad  hanyalah Allah, sedangkan kita hanya hamba yang tadinya  tiada (nol) lalu diberikan oleh-Nya kehidupan. Dia itu Wujud, Hamba itu diwujudkan-Nya.

Itu sebabnya jika kita ingin dikekalkan-Nya maka mendekatlah kepada Allah Yang Maha Abadi, tiada berawal dan tiada berakhir.

Mengunjungi rumah Allah adalah kebutuhan kita untuk berjumpa dengan-Nya. Maka itu, jangan sampai kita salah sasaran.

Jika diundang, mari kita bahas Rumah seseorang, tentu saja tujuan kita adalah untuk membahas si pemilik rumah, dan bukan untuk menikmati sajian-sajiannya, tapi tentu saja boleh saja setelah kita membahasakannya untuk dibahas sajian yang disediakan, dan itu pun sesuai dengan adab yang santun, jangan rebutan dengan tamu yang berbaring.

Kita pun datang ke Rumah Allah dengan tujuan bertemu Allah, bukan malah sibuk rebutan menikmati sajian-Nya, seperti rebutan mencium Hajar Aswad tanpa adab kesantunan.

Fokuslah kepada pemilik-Nya, bukan pada sajian-Nya. Jadi kita harus fokus, maka kita diharuskan Thawaf sebanyak 7 kali mengitari Baitullah.

Angka 7 menandakan makna “banyak”. Maknanya adalah Thawaf 7 yang merupakan upaya beribadah untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya pusat ingatan dalam kehidupan, dan membuat proses mengingat Allah harus lebih banyak atau lebih banyak, semakin meng-nolkan diri dan semakin meng-Esakan-Nya.

Itulah hakikat gerakan thawaf di Baitullah, semoga Allah mengizinkan kita semua untuk bertemu Allah di unia melalui Baitullah yang gagah, dan juga bertemu Allah di Akhirat melalu Jannah-Nya yang indah.

Wallahu A’lam

Salam

Kang Zain
www.jlebb.com

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *