- Inspirasi

APAKAH benar bahwa IKHTIAR dan DO’A bisa mengubah TAQDIR?

Bicara tentang IMAN tentunya berbeda dengan sekedar Bicara tentang PIKIRAN atau PERASAAN. Keimanan itu lebih dalam dari pada pikiran (logika) dan perasaan (emosi).

Kita layak disebut sebagai orang yang beriman manakala kita keukeuh mau percaya pada sesuatu yang Allah sampaikan, padahal secara ukuran mata dan logika biasa hal itu sulit atau tidak bisa diterima dan dipahami.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa TAQDIR kita sudah tercatat sempurna di Lauhul Mahfuzh 50.000 tahun sebelum kita dan alam semesta ini diciptakan.

Loh kok bisa begitu? Perasaan klo gitu sih gak fair ya? Tuh kan langsung dirasain sebelum dipikirin dengan dalem …. Silakan saja kalau mau dirasa-rasa dan dianalisa…, tapi ya jangan sampai salah kesimpulan… Sebab pikiran dan perasaan kita mah terbatas, apalagi untuk memahami sesuatu yang kita tak paham dimana batasnya… Akuilah.. Laa hawla walaa quwwata illaa Billaahil ‘aliyyil ‘azhiim…

Itu sebabnya TAQDIR itu masuk ke dalam RUKUN IMAN… Itu sebabnya juga, jika kita ini memang orang yang serius beriman kepada Allah maka Ridho-lah dan Rela-lah atas takdir yang Allah tetapkan dan titipkan kepada kita, baik dan buruknya, sebab semua kehendak, perkataan dan pekerjaan Allah pastilah bermaksud baik, walau terlihatnya buruk dalam kacamata kita yang terbatas.

Lalu… Apakah Taqdir itu bisa berubah?

TAQDIR berasal dari kata “Qodaro” yang artinya Kadar atau Ukuran atau Takaran, yang mana bisa juga dimaknai sebagai Timbangan atau Keseimbangan. Takdir senantiasa aktif bergerak tapi tetap pada takarannya, tidak kurang dan tidak lebih, sesuai ketetapan-Nya, selalu seimbang, adil, tanpa menzalimi siapa pun.

Artinya, isi dari takdir itu sendiri adalah pergerakan variabel kehidupan yang seimbang, yakni perubahan-perubahan yang tersistematis dalam takaran Kehendak-Nya, sehingga takdir itu bukan saja bisa berubah melainkan perubahan itu sendiri adalah bagian dari takdir Allah. Sebab, perubahan selalu seimbang, sehingga hasil tidak akan mengkhianati proses, dan syurga tidak akan menghianati orang-orang beriman yang beramal sholeh.

Jadi, pertanyaan “apakah takdir itu bisa berubah?” agak mirip dengan pertanyaan “apakah perubahan itu bisa berubah?”, sehingga mirip dengan pertanyaan, “Apakah Hasil berani mengkhianati Proses?”.

Dalam sebuah hadits riwayat Tarmidzi dikatakan bahwa Do’a bisa mengubah takdir. Hmm Apa maksudnya ya?

Nah Pikiran kita kembali tergoda untuk menganalisa dengan perasaan… Tapi coba bayangkan jika Nabi kita justru mengatakan bahwa do’a tidak bisa mengubah takdir apapun… Lah bisa jadi kita semua jadi males berdo’a atuh… Wong sudah dibilangin do’a bisa mengubah takdir aja kita kadang masih males berdo’a… apatah lagi kalau dibilangin kagak bisa…

Jadi… Bagaimana sebaiknya kita harus memahami tentang Do’a, Ikhtiar, dan Takdir?

1. Takdir adalah perubahan-perubahan yang sudah dalam kadar kententuan-Nya, yakni Perubahan-perubahan yang Seimbang, sudah ditetapkan-Nya, diketahui-Nya, digerakkan-Nya.

2. Takdir ada dua. Takdir yang bisa berubah (biasa disebut Muallaq) agar menjadi seimbang, dan Takdir yang tidak bisa berubah (biasa disebut Mubram) karena sudah seimbang.

Takdir Muallaq (yang bisa berubah) adalah takdir tentang sesuatu yang bisa kita lihat, kita pilih dan kita ukur dengan indera dan pikiran kita.

Misalkan : Sekarang takdir penghasilan saya 2 juta per bulan, kalau saya semakin rajin dan ikhlas dalam bekerja maka tahun depan penghasilan saya bisa mencapai minimal 10 juta per bulan.

Contoh lainnya, misalkan sekarang saya bodoh, kalau saya rajin belajar maka saya akan jadi pintar.

Jadi keberhasilan berubah atau tidaknya sangat tergantung dari pilihan-pilihan tindakan yang dilakukan oleh kita sebagai hamba-Nya. Ingatlah bahwa Hasil tidak akan mengkhianati Proses.

Namun tentu saja, karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak, maka Allah paham siapa saja yang pantas diubah menjadi lebih kaya dan lebih pintar. Dan semua sistem perubahan dan perubahannya itu sudah diatur dan tertulis di Lauhul Mahfuzh.

Sedangkan Takdir Mubram (yang tidak bisa berubah) adalah takdir yang Ghaib, tidak terlihat oleh mata biasa, sulit diukur dengan logika biasa.

Contohnya, kita gak tahu pasti berapa takdir penghasilan kita bulan depan, memang uang itu terlihat, tapi Rezeki itu Ghaib. Contoh lainnya, kita gak pernah tahu kapan tepatnya kita akan mati.

3. Ikhtiar dan Do’a bisa mengubah takdir dalam ukuran kita (Muallaq), tapi tidak bisa sama sekali mengubah takdir yang sudah Allah tetapkan (Mubram).

Ikhtiar dan Do’a itu PILIHAN, tapi Hasil dan Rezeki itu KEPANTASAN atau KESEIMBANGAN.

Ikhtiar dan Do’a itu KEWAJIBAN, tapi Hasil dan Rezeki itu KEJUTAN.

Ikhtiar dan Do’a itu IBADAH, tapi Hasil dan Rezeki itu HADIAH.

4. Yakinlah 100% bahwa Taqdir sudah ditetapkan oleh Allah secara fair tanpa menzalimi siapa pun. 50.000 tahun sebelum penciptaan alam semesta ini, taqdir sudah fix…, sudah tertulis rapih…, sudah kering tintanya…, tidak bisa diutak-atik lagi…, sudah yang terbaik-teradil-terbijaksana.

Keberadaan Takdir Muallaq pasti sudah dalam liputan Takdir Mubram. Kita akan memilih ikhtiar dan Do’a yang seperti apa, sudah pasti diketahui oleh Allah, tanpa kesalahan sedikit pun.

5. Hadits bahwa do’a bisa mengubah taqdir adalah sebagai motivasi dari Allah melalui Rosul-Nya untuk hamba-hamba-Nya agar kita tidak berputus asa menjalani hidup. Tetap move on …

Tentu saja, keberadaan hadits ini pun sudah tertulis di Lauhul mahfuzh, artinya keberadaan hadits ini pun sudah bagian dari taqdir Allah. Diterima saja, jangan pula hadits tersebut kita salah-salahin tanpa haq.

6. Beriman kepada Taqdir adalah bukti bahwa kita orang beriman yang sungguhan, maka ridho dan rela-lah atas takdir apapun yang dititipi-Nya atau yang diambil-Nya atas diri kita, sebab semua milik-Nya dan pasti kembali kepada-Nya.

7. Point penting hikmah beriman kepada taqdir adalah bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih stabil emosinya, tidak terlalu sedih atau gembira atas bencana atau karunia duniawi atas diri kita, sebab semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(Q.S. Al-Ĥadīd :22 -23)

Wallahu a’lam

Salam 🙏🙏🙏

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *