- Artikel JLEBB

BAHAYA PRASANGKA, PENCITRAAN, KEKAGUMAN dan PENYAKIT ‘AIN

Prasangka Buruk bisa bermakna positif bilamana dimaksudkan sebagai tindakan kewaspadaan terhadap orang-orang yang bertindak jahat. Begitu juga, prasangka baik bisa menjadi buruk jika tidak pada tempatnya.

Tentu saja, secara umum, prasangka baik adalah jauh lebih baik dari prasangka buruk. Namun apapun yang berlebihan dan tak terukur bisa membahayakan, termasuk dalam berprasangka baik kepada Allah, ataupun kepada makhluk.

Prasangka baik orang lain kepada Anda, apalagi sampai memuji dan mengagumi Anda, padahal kenyataannya Anda sangat jauh perilaku keseharian dari yang disangkakannya, apalagi jika Anda respon sangkaan baik orang lain kepada Anda itu dengan ‘ujub, maka Anda sedang dalam keadaan “hutang energi”, semakin banyak hutang energi Anda maka akan semakin membahayakan kehidupan Anda …

Misalkan Anda biasa sholat tahajjud hanya sebulan sekali, tetapi karena kesehariannya Anda orangnya ramah dan santun, terlihat suka bersedekah, rajin ke masjid, lalu puasa sunnah senin kamis pun nyaris tak tertinggal, lalu “entah bagaimana” orang-orang di sekitar Anda pun menganggap Anda orang yang sangat sholeh, bahkan sebagian dari mereka #menyangka dengan sangat yakin bahwa Anda PASTILAH orang sholeh yang tak pernah meninggalkan tahajjud dan sholat dhuha, maka ketika kabar tersebut terdengar di telinga Anda segeralah untuk meresponnya dengan memperbanyak istighfar, tasbih, dan istirja’ lalu “menyelaraskan” sangkaan baik orang-orang di sekitar Anda tersebut dengan cara mulai menunaikan sholat tahajjud setiap malam murni karena Allah… jangan anggap sangkaan orang kepada Anda sebagai pujian, tapi anggap saja itu sebagai motivasi dan do’a…

Apalagi kalau kesolehan Anda niatnya hanya pencitraan, ingin dianggap baik oleh orang lain, padahal jauh aslinya mah, maka “hutang energi” Anda akan semakin besar.

Dalam Q.S. Alhujurat ayat 12 disebutkan “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah #kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa…..”

Sebagian besar prasangka itu dosa, terutama prasangka buruk, dan dosa itu berbahaya. Namun prasangka baik pun tetaplah berbahaya jika tidak pada tempatnya.

Bahkan Nabi Yunus ‘alaihissalaam dalam Q.S. 21 ayat 87 disebutkan telah berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah tak akan mempersulitnya atas kemarahannya kepada kaumnya. Ternyata prasangka baik yang diiringi dengan ketidakta’atan kepada Allah hanyalah akan mengundang murka dari Allah, akhirnya Nabi Yunus dtelan oleh ikan paus.

Kadang kita mendengar sebagiaan orang yang menyangka “gpp kok kita berbuat dosa sebesar apapun, kan ada Allah Yang Maha Pengampun. Kita tuh harus husnuzhan (baik sangka) kepada Allah, walaupun kita banyak dosa, Allah tak akan menghukum kita, Dia kan Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sebesar apapun dosa-dosa kita, tetaplah kemahaampunan Allah jauh lebih besar”. Wah kalau banyak orang yang model begini maka bisa cepat hancur alam semesta, Bahaya.

Prasangka baik kepada Allah saja bisa berbahaya manakala dilakukan dengan sembrono, apalagi prasangka baik kepada orang lain, manusia yang tentunya memiliki banyak dosa.

So, karena kebanyakan prasangka itu dosa; prasangka baik apalagi prasangka buruk, maka kurangilah berprasangka. Jangan sampai prasangka Anda lebay, yakni berbaik sangka yang mana sampai jatuh kepada kekaguman atas sosok manusia lalu lupa menyebutkan “Maa syaa Allah tabarokallah”, maka prasangka baik dan kekaguman Anda kepada orang tersebut hanya akan mencelakakannya dan membuatnya memiliki banyak hutang energi manakala ternyata prasangka Anda meleset jauh dari kenyataan yang ada.

Bahkan Prasangka baik yang diiringi dengan kekaguman yang berlebihan dapat mengundang “penyakit ‘Ain” ..

Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu, Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

Belajarlah dari Abu bakr Ash-shiddiq, ketika beliau disangka baik, dikagumi, dan dipuji oleh orang lain, maka beliau berdo’a :

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Wallahu a’lam
KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *