Benarkah-Berdebat-Itu-Boleh
- Informasi

Benarkah Berdebat Itu Boleh ?

Berdasarkan Q.S. An Nahl 125 maka berbantah-bantahan atau berdebat dengan cara yang baik itu boleh bahkan disarankan.

Surat Lebah (An-Naĥl):125 – Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah (debatlah) mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Jika memang ilmu Islam yang kita pelajari adalah Islam yang hanif maka kita tidak akan mudah kebakaran kumis jika melihat ada perbedaan pendapat dengan orang lain. Nabi adalah sosok pemaaf dan baik santun tutur katanya.

Prinsip aqidah yang benar adalah meyakini bahwa hanya Allah lah yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang tersesat. Ingatlah sekarang tidak ada sosok yang maksum seperti Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang langsung diberikan wahyu untuk mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapatkan petunjuk.

Pegangan kita yang murni hanya AlQuran, lalu diperindah dengan Hadits, Ijma Sahabat, Fatwa Ulama, dan Ijtihad para Ulama. Dan kita harus jujur, hanya Alquran yang bisa menyatukan kita, sebab selain Alquran (Hadits, Ijma, Fatwa, Ijtihad) sifatnya hanya menjelaskan Alquran maka wajar saja bila terjadi banyak perbedaan pemahaman di kalangan internal kaum Muslimin. Selain itu, AlQurannya memang sama, tapi  penafsirannya bisa bermacam-macam, ayatnya sama, tafsirannya bisa sedikit atau banyak beda antara satu penafsir dengan penafsir lainnya. Hmm… Kita harus akui kenyataan itu.

Nah berdasarkan kenyataan itulah, maka wajar sekali apabila setiap individu punya pemahaman yang berbeda tentang Hakikat Hidup ini, tentang Hakikat Islam sejati. Semua orang atau kelompok bisa saja mengklaim bahwa pemahamannyalah yang terbaik bahkan terbenar, tapi jika kita lupa bahwa Allah lah yang sesungguhnya lebih tahu tentang hal itu maka bisa terjerumuslah kita ke dalam kesombongan aqidah yang disebut syirik.

Surat Bangsa Romawi (Ar-Rūm):32 – (orang-orang syirik itu) yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Nah itu sebabnya berdebatlah dengan santun. Awali dengan niat menemukan kebenaran dan ketenangan hidup yang hakiki. Berdebatlah dengan tenang. Jika berdebat diawali dengan merasa paling benar maka yang timbul adalah ketakutan, ketegangan, dan kemarahan. Alhaqqu mirrobbik.

Coba bayangkan… Orang yang sedang kita ajak berdebat tersebut… Ia adalah orang yang bukan Anda ; waktu lahir beda, tempat lahir beda, bidannya beda, ibunya beda, ayahnya beda, pendidikannya beda, buku-buku yang dibaca banyak yang beda, cara senyumnya beda, bertemu dengan orang-orang yang kebanyakan berbeda dengan orang-orang yang pernah Anda temui, ya wajar dong bila cara pandangnya tentang hidup ini ada yang berbeda dengan Anda. Perbedaan yang terjadi adalah alat mengasah ketajaman hati kita. Hidup pasti terasa aneh bila semua orang punya pikiran, perasaan, dan keyakinan yang sama. Oh sungguh menjemukan.

Surat Memperjalankan di waktu malam (Al-‘Isrā’):84 – Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Cuman Allah yang tahu pasti siapa yang benar dan siapa yang salah atas perbedaan pemahaman yang terjadi.

Nah ciri-ciri kita sudah mulai berdebat dengan cara yang salah, atau cara yang tidak baik adalah : tegang, degdegan berdebar kencang, kaku, sombong, mata merah, marah, kesal, susah senyum, manyun/cemberut, atau malu/minder.

Surat Musyawarah (Ash-Shūraá):13 – Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Tuh kan… Yang penting bersatu dengan hati tawadhu sebab hanya Allah yang tahu siapa yang mendapatkan petunjuk dan siapa yang tersesat dari satu.

Salam

About Kang Zain

Read All Posts By Kang Zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *