- Inspirasi

Coba tebak, Pandemi saat ini sebenarnya WABAH COVID-19 atau WABAH WAHN?

Salah satu yang membuat banyak negara kebingungan menangani Covid-19 ini bisa jadi dikarenakan kegagalan mereka dalam mendefinisikan arti dari “Wabah”.

Kalau kita simak dari berbagai literatur yang ada, maka di zaman Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan para sahabat, suatu penyakit dikatakan “wabah” manakala sudah memiliki dua ciri :

  1. Cepat menular
  2. Mematikan hampir semua orang yang terinfeksi.

Contoh serangan wabah adalah apa yang terjadi di kota Basrah, Irak, pada tahun 750 M dan Damaskus pada 754 M. Sekitar 70 ribu orang mati di hari pertama serangan dan jumlah yang sama meninggal di hari kedua. (Silakan cek lebih lanjut di :

https://news.detik.com/berita/d-4958416/sebelum-covid-19-ini-8-wabah-yang-sempat-terjadi-pada-masyarakat-islam)

Dari data statistik dunia (worldometers.info), penyakit Covid-19 ini terbukti memang cepat menular, tapi ternyata yang benar-benar mati setelah kena Covid-19 hanyalah sekitar 2,3%, dan itu pun mayoritas karena faktor usia tua dan penyakit bawaan (Comorbid), dan juga bisa jadi karena manipulasi data yang dibuat oleh beberapa oknum tertentu yang ingin meraih kesenangan di atas penderitaan orang lain.

Itu mengapa hari ini Pemerintah sulit menangani Covid-19, yaitu dikarenakan Covid-19 dianggap sebagai Wabah tapi di sisi lain Covid-19 berbeda karaktenya dengan Wabah-wabah yang pernah ada sebelumnya. Covid-19 memang cepat menular namun tidak mematikan kecuali hanya sekitar 2 sd 3 persen saja tingkat kematiannya. Sedangkan di sisi lain ada beberapa penyakit lainnya yang tidak dianggap wabah padahal tingkat kematiannya sudah di atas 50% bila sudah terjangkit.

Wabah “informasi hoax” tentang Corona yang diviralkan justru jauh lebih berbahaya dibandingkan virus Corona itu sendiri. Kalaulah berita lebay tentang virus Corona ini tak ada yang memulai memviralkannya maka orang-orang tidak akan parno ketika terkena penyakit Covid-19.

Munculnya ketakutan orang-orang akan terjangkit virus corona yang menyebabkan sakit parah bahkan kematian, justru menjadi mewabah dikarenakan informasi lebay unfaedah yang terus-menerus ditebarkan oleh berbagai media. Berita dan data disajikan secara tidak seimbang, cenderung menakut-nakuti pembaca atau nitizen dibandingkan memotivasi mereka untuk tetap tenang, optimis, dan bahagia.

Akhirnya muncul dan mewabahlah penyakit akhir zaman yang sudah dinubuwwahkan oleh Sang Nabi, yaitu penyakit “Wahn”, yang maknanya adalah “cinta dunia dan takut mati”. Ketika seseorang sudah terkena wabah Wahn ini maka ia akan sangat melekat kepada cinta dunia dan lalu takut akan kematian, sehingga akhirnya iman dan imun pun akan sangat menurun.

Ketika Iman dan Imun menurun maka jadi tidak Aman, sehingga ketika virus Corona masuk ke dalam tubuh akan membuat tentara imun di dalam tubuh kewalahan menghadapi serangan virus tersebut.

Itu sebabnya tak heran kalau Ibnu Sina (Avicenna), seorang tokoh muslim dan tokoh penting di dunia kedokteran, mengatakan bahwa “Kepanikan (ketakutan) adalah separuh penyakit”. Artinya walaupun kita terkena virus Corona maka in syaa Allah kita akan tetap baik-baik saja selama kita tidak panik, tidak Wahn. Bahkan sebagian besar masih bisa beraktivitas seperti biasanya.

Apalagi kalau kita amati, kebanyakan yang dinyatakan mati karena Covid-19 terjadi di Rumah Sakit, bukan di Rumah. Karena ketika seorang pasien sudah diisolasi di rumah sakit maka ia tidak boleh dijenguk selama 14 hari sampai dinyatakan negatif hasil swab nya. Nah selama 14 hari yang kesepian itu sangat memungkinkan membuat imun tubuh menurun dikarenakan ketakutan atau halusinasi yang tidak baik, dan juga karena tidak ditemani oleh orang-orang yang dicintainya. Isolasi Mandiri di rumah lebih baik buat kinerja imun tubuh dibandingkan diisolasi di rumah sakit, kecuali memang ada comorbid yang kambuh dan akan membahayakan nyawa si pasien, maka in syaa Allah Rumah Sakit adalah pilihan terbaik.

Intinya jika iman kita kuat maka imun kita juga akan membaik. Itu sebabnya jauhilah panik dan ketakutan yang tak berdasar. Jauhi “Wahn” (Cinta dunia Takut mati) dengan cara memperbanyak Dzikrullah, dan juga memperbanyak sedekah dengan ikhlas.

Toh lagi pula, bagi orang yang beriman, mati itu adalah salah satu solusi efektif dari berbagai masalah dan kesulitan dunia, dan juga yang utama adalah sebagai jalan indah yang membuatnya semakin dekat kepada Allah yang sangat dicintai dan dirindukannya.

Selain itu, salah satu yang membuat imunitas seseorang menurun adalah semakin minimalnya aktifitas sosial, manusia adalah makhluk sosial, hablumminannaas. Contohnya berpelukan dan bersalaman, padahal berpelukan itu bisa mengaktifkan hormon oksitosin sehingga daya tahan tubuh meningkat, dan bersalaman bisa menggugurkan dosa-dosa di antara keduanya. Sekarang ini mau sedekah senyum ke saudara pun menjadi sulit karena mulut tertutup oleh masker.

Kalau pun berangkat sholat berjama’ah ke masjid jadi terasa agak angker, karena hampir semua orang diam terkesan saling menjauhi dan tidak lagi saling sapa akrab seperti biasanya. Maka wajarlah bilamana imun tubuh semakin runtuh karena ukhuwah semakin rapuh.

Hal lain yang unik adalah hadirnya para OTG. OTG atau Orang Tanpa Gejala, hakikatnya adalah orang sehat, namun dinyatakan sakit oleh test yang bernama Swab. Jika bukan karena hasil Swab maka para OTG yang konon dianggap membahayakan itu masih bisa mencari nafkah seperti biasanya.

Padahal sebagian dokter di dunia pun telah menyatakan bahwa hasil test Swab itu tidak akurat, apalagi Rapid test, sangat tidak akurat sehingga WHO sudah melarang menggunakan Rapid test. Setelah para OTG “ditangkap” lalu turut diisolasi, akhirnya sebagian dari para OTG pun bisa berubah menjadi ODG (Orang Dengan Gejala) karena diperlakukan seperti orang yang membahayakan.

Kalau logika sederhana saya yang terbatas ini justru semakin banyak OTG akan semakin baik, karena akan terjadi proses vaksinasi alami di semesta, atau diistilahkan sebagai HERD Immunity. Vaksin alami ini berbiaya murah, dan lebih natural, tidak direkayasa oleh manusia. Untuk kasus level kematian 2,3% persen ini maka HERD Immunity sangat layak dicoba, tentunya tetap dengan protokol covid yang lebih waras.

Salah satu bentuk OTG yang justru perlu dikhawatirkan adalah Orang yang terlihat baik, eh ternyata psikopat atau sosiopat, dia tampak OTG, yakni Orang Tanpa Gejala berpenyakit hati, tapi ternyata sakit hatinya sangat parah atas kehidupan ini. Para OTG yang beginian nih yang seharusnya ditangkap, diisolasi, lalu direhabilitasi jiwanya.

Dalam istilah kedokteran maka Corona disebut sebagai Virus, bentuknya sangat kecil, konon hanya bisa dilihat oleh mikroskop. Sedangkan dalam bahasa keislaman maka Corona itu tergolong bangsa Jin, karena Jin itu artinya tersembunyi, tertutup atau bisa dimaknai sebagai makhluk ghaib, makhluk yang tak terlihat. (Silakan dibaca hadits yang saya lampirkan bersama tulisan ini dalam bentuk pict)

Ok, terkahir sebagai penutup, yuk kita asah otak dengan 5 pertanyaan berikut :

  1. Menurut analisa Anda, Pandemi saat ini sebenarnya WABAH COVID-19 atau WABAH WAHN?
  2. Kebanyakan pasien yang mati itu karena Covid-19 atau karena adanya Comorbid?
  3. Imun tubuh menurun tak berdaya itu dikarenakan panik atau dikarenakan terkena Covid-19?
  4. Sebenarnya yang membuat sakit dan/atau mati itu karena faktor “Covid-19” nya atau karena “Protokol Covid-19” yang melampaui batas?
  5. Untuk menghadapi serangan jin alias makhluk tak terlihat itu lebih efektif dengan cara “Berobat” atau “Bertobat”?

Wallahu a’lam

Salam

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *