Hindarilah-10-Bentuk-Kesuksesan-Yang-Tidak-Sukses
- Inspirasi

Hindarilah 10 Bentuk Kesuksesan Yang Tidak Sukses

Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau meraih kesuksesan yang tidak sukses. Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang “Meraih Kesuksesan Yang Tidak sukses” itu?

Pertama, yaitu orang-orang yang merasa beriman tapi mereka sebenarnya hanya bermain tentang keimanan mereka. Yaitu orang-orang yang mendahulukan perasaannya dibandingkan keimanannya. Yaitu orang-orang yang menjadikan hukum syari’at hanya sebagai pelampiasan hawa nafsu mereka bahwa kelompoknya lah yang paling benar, lalu terciptalah permusuhan dan perpecahan umat.

Kedua, yaitu orang-orang yang merasa telah beramal sholeh tapi sebenarnya mereka beramal salah lalu mereka menyalahkan orang-orang yang benar-benar beramal sholeh. Yaitu orang-orang yang suka berbuat bid’ah, mengada-ada dan menambah-nambahkan ritual ibadah keberagaamaan tanpa teladan dari Sang Rosul. Yaitu orang-orang yang hobinya membid’ah-bid’ahkan orang atau kelompok lain sampai mereka sendiri lupa bahwa manisnya iman hadir ketika mereka lebih banyak introspeksi dibandingkan mengkritik cara beramal ibadah orang atau kelompok lain.

Ketiga, yaitu orang-orang yang menjadikan sholat hanya sebagai selingan di kehidupan mereka. Yaitu orang-orang yang menjadikan sholat sebagai beban yang memberatkan kehidupan mereka. Yaitu orang-orang yang tidak menikmati pelaksanaan sholat yang mereka tegakkan. Yaitu orang-orang yang sholatnya ingin segera selesai. Yaitu orang-orang yang sholatnya menjadi sangat lama di saat banyak manusia yang melihatnya. Yaitu orang-orang yang amalan dzikir ba’da sholatnya jauh lebih khusyu dibandingkan dengan amalan sholatnya.

Keempat, yaitu orang-orang yang lebih suka membujang dibandingkan hidup memiliki pasangan yang halal. Yaitu orang-orang yang lebih suka selingkuh jarak dekat atau jauh dibandingkan menikah dengan syah. Yaitu orang-orang yang lebih meninggikan derajat pacaran dan selingkuh dibandingkan dengan menikah dan poligami. Yaitu orang-orang yang dengan poligaminya semakin zalimlah ia kepada para istrinya. Yaitu orang-orang yang merasa pasangan hidup mereka adalah milik mereka, dan mencintai pasangan mereka melebihi cinta mereka kepada Allah. Yaitu orang-orang yang menyukai seks dan pornografi tapi mereka tidak memahami penyaluran birahi yang tepat, halal, dan indah.

Kelima, yaitu orang-orang yang menzalimi anak-anak yang dititipkan kepada mereka. Yaitu orang-orang yang tidak memperkenalkan kasih sayang Allah kepada anak-anak mereka. Yaitu orang-orang yang enggan mendidik anaknya dengan keikhlasan dan kesabaran sehingga mereka bingung dan tertekan, lalu mereka “buang” anak-anak mereka ke lembaga pendidikan yang mahal atau yang gratisan.

Keenam, yaitu orang-orang yang selalu mengejar uang. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa dengan uang yang banyak maka mereka bisa mendapatkan apa pun keinginannya, sampai tatkala mereka pun menemukan bahwa pada saat tertentu ternyata uang tak ada artinya sama sekali, tapi sedikit pula yang sadar di antara mereka.

Ketujuh, yaitu orang-orang yang lebih suka dalam keadaan kenyang dibandingkan dalam keadaan lapar atau seimbang. Yaitu orang-orang yang selalu mengejar impian dunianya. Bahkan kegelisahannya tak kunjung berhenti walau impiannya telah diraih. Yaitu orang-orang yang melekat dengan kenikmatan dunia. Yaitu orang-orang yang melekat dengan permasalahan dunia. Yaitu orang-orang yang bersedekah hanya karena menginginkan dunia dan mereka lupa bahwa dosa-dosa mereka begitu banyak. Mereka kejar dunia dengan cara bersedekah, tapi mereka lupa membersihkan diri mereka dengan sedekah-sedekah mereka.

Kedelapan, yaitu para ustadz yang mobilnya lebih mewah dibandingkan amal-amal sholehnya. Yaitu para ulama yang fatwanya dilandasi kesombongan atas keilmuan yang dimilikinya. Yaitu para terapis yang membantu mengobati banyak orang tapi dirinya semakin sakit dan terpuruk. Yaitu para kyai yang bangga dengan jumlah santrinya dan bangga atas megahnya bangunan pesantren yang dimilikinya tapi melupakan tanggung jawab yang hadir dibalik itu semua, sehingga terlupalah untuk menjadikan para santrinya sadar dengan kesadaran yang dalam sebagai Abdullah dan Khalifah-Nya. Yaitu para motivator yang hanya termotivasi ketika diminta mengisi training motivasi dengan bayaran yang mampu memotivasi mereka.

Kesembilan, yaitu orang-orang yang sudah tak lagi mempunyai perasaan cinta kepada Nabi-nabi mereka dengan alasan “yang penting kami mencintai Allah”. Yaitu orang-orang yang ingin menemukan Allah dengan cara mereka sendiri, sehingga mereka pun berkata : “Aku harus bertemu Allah dengan caraku, aku tak boleh kalah dari Nabi Muhammad, aku akan temukan cara yang lebih baik, lebih praktis, dan lebih singkat agar aku bisa mengenal dan bertemu Allah, sehingga aku bisa membuat padepokan spiritual sendiri, bahkan kalau perlu aku mengangkat diriku menjadi Nabi baru, Mursyid di atas Mursyid”.

Kesepuluh, yaitu orang-orang yang berguru kepada satu atau beberapa orang, lalu menjadikan guru-gurunya sebagai “Tuhan-Tuhan kecil” dalam kehidupannya, sadar atau tidak sadar. Yaitu orang-orang yang rajin mengumpulkan ilmu di berbagai majlis taklim tapi sangat malas mempraktekkan ilmu yang telah di dapatkannya di dunia nyata. Yaitu orang-orang yang meninggalkan “guru” atau “imam” sejati mereka, yaitu aturan di Al-Quran, lalu membuat aturan kehidupan sendiri. Yaitu orang-orang yang tampaknya akrab dengan Al-Quran, setiap hari membaca Al-Quran, bahkan mengerti sebagian tafsirnya, indah pula suaranya, tapi kata-kata dan perbuatannya kasar dan kikir kepada sesama.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berlaku demikian. Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sungguh kehidupan di akhirat lebih nyata dan kekal abadi. Sungguh tipuan di dunia ini telah membuat sebagian manusia merasa bahwa “cukup dunia bagiku”. Sungguh tipuan kesenangan di dunia ini telah menutup mata hati dan mata ruhani mereka dari keabadian dan kebahagiaan sejati. Sedangkan orang-orang beriman berkata : “cukup Allah bagiku”, dan mereka beriman total kepada Allah, bertawakkal yang menyempurna kepada-Nya, berikhtiar dan beramal sholeh dengan tenang karena-Nya, dan mereka saling menasehati dalam kebaikan, kebenaran, kesyukuran, dan kesabaran. Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

 

Baca Juga : Terungkaplah 5 Rahasia Do’a Pasti Terkabul

 

Salam Jlebb

Mr. Jlebb

About Kang Zain

Read All Posts By Kang Zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *