- Inspirasi

If YOU NEVER GIVE then YOU NEVER GIVE UP

If YOU NEVER GIVE then YOU NEVER GIVE UP 💜
🗣 Menyadari bahwa sebenarnya kita tak akan pernah mampu memberikan apapun kepada siapapun 🎯

Oleh : Kang Zain

Ketika kita memberi sesuatu kepada seseorang lalu kita berbahagia karena melihat orang tersebut bersuka cita, maka sebenarnya saat itu kita sedang menguatkan Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotient (EQ) di
Jiwa kita. Dan tentu saja hal demikian itu sangat bagus dan merupakan salah satu bentuk dari akhlak yang mulia.

Namun bila kita ingin yang lebih, maka kita masih bisa upgrade lagi kualitas kesadaran kita, sebab kita masih belum sampai ke terminal kesadaran murni, masih ada Spirtual Awareness (SA) atau Kesadaran Keyakinan dan terakhir masih ada puncaknya kesadaran yaitu Loyalty Awareness (LA) atau Kesadaran Ketundukan yang dikonversikan dalam bentuk Kecerdasan Ruhani atau Ruhani Quotient (RQ).

Dalam ranah LA/RQ maka kita menyadari dengan total bahwa segalanya milik Allah. Harta dan apapun yang ada pada kita hakikatnya bukan milik kita, tapi hanya berupa amanah dari Allah dalam bentuk HGP, atau Hak Guna Pakai. Sehingga bila RQ kita sangat dominan, maka ketika suatu saat kita memberi sesuatu kepada orang lain, tak akan membekas kuat perasaan bahwa kita sudah berhasil menjadi orang baik yang suka memberi.

Kenapa demikian? Karena kita menyadari bahwa sebenarnya kita hanya mengolah harta yang Allah amanahkan. Tentunya, selain ada yang kita olah untuk keperluan diri kita secara langsung, ada juga yang kita olah untuk keperluan diri kita secara tak langsung. Itulah sebabnya mengapa hakikatnya “Memberi bukanlah Memberi”, melainkan sekedar salah satu bentuk pengolahan harta HGP yang ada, yang dilakukan dalam format “aktifitas memberi”, yang “ujung-ujungnya” tetep weh untuk keperluan diri kita juga, namun prosesnya tak langsung, sehingga hasilnya pun seringkali tak kasat mata di saat ini, melainkan kasat matanya di akhirat kelak. Tapi tentu saja secara batin atau tak kasat mata pun, aktifitas “memberi” ini dapat membuat jiwa seseorang bergembira dan bahagia saat di dunia.

⚡Berarti kita sebenarnya tak pernah dan tak akan pernah mampu memberikan apapun kepada siapapun ya? 🤯

Begini… cobalah kita sadari lebih hakiki, kita tenangkan dulu hati kita… kita ini kan milik Allah, harta kita pun milik Allah, bahkan orang-orang yang kita “beri” juga milik Allah, lalu dimanakah peran “saya” atau “anda” sehingga kita merasa layak mendapat pengakuan bahwa kita telah memberi sesuatu kepada orang lain?

Mari kita perhatikan sejenak, terjemahan dari kata “Memberi” dalam bahasa arab adalah :

اَعْطَى – يُعْطِى
A’thoo – Yu’thii

Nah, mengapa Allah tidak menggunakan istilah tersebut ketika kita sedang “memberi” sesuatu kepada orang lain? Tapi justru Allah menggunakan istilah lainnya, seperti: Infaq, Shodaqoh, Zakat, dan Wakaf.

Kalau kita sadari hakikatnya, maka sangat wajar bila Allah tidak menggunakan istilah Yu’thii, hal ini dikarenakan agar kita beramal sholih dengan lebih tulus, ikhlas, dan berserah diri, sehingga menjadi “tahu diri” alias “sadar diri”.

🎯 Cobalah kita simak…

Infaq Atau Infak berasal dari kata “anfaqa” yang artinya “membelanjakan”. Artinya ketika kita berinfak maka sebenarnya kita sedang Belanja sesuatu dari “Supermarket Akhirat”. Belanja apakah itu? Ya, belanja Pahala, belanja Ampunan, belanja Mardhotillah, belanja Ketenangan jiwa dan belanja hal-hal lainnya yang akan membaguskan kehidupan kita di dunia saat ini dan di akhirat kelak. Maka kurang pas kiranya manakala kita berinfak lalu kita merasa dermawan, sebab kita berinfak itu hakikatnya untuk kepentingan kita.

💎 Shodaqoh atau Sedekah berasal dari kata “Shodaqa” atau “Shidqoh” yang artinya “Benar” atau “Jujur” atau “Nyata/Bukti”. Maka ketika kita bersedakah hakikatnya adalah pembuktian bahwa kita mengakui dengan jujur bahwa harta ini benar-benar milik Allah, dan bahwa kita benar-benar beriman dan cinta kepada Allah. Itu sebabnya kita akan menjadi ringan tatkala melakukan amal sedekah, sehingga Allah senang atas pengakuan kejujuran kita yang benar sepenuh hati.

Salah satu terjemahan “Maskawin” dalam bahasa Arab adalah “Shidaaqun”, yang maksudnya adalah sebagai bukti yang benar dan keseriusan seorang lelaki untuk menikahi wanita yang dicintainya.

💎 Zakat berasal dari kata “Zakaa” yang artinya “Bersih” dan “Bertumbuh”. Maka perintah Zakat Maal itu sejatinya dilakukan setelah terpenuhi Nisabnya (jumlahnya) atau Haulnya (waktu setahun). Sederhananya begini, kalau harta yang diamanahi ke kita sudah menumpuk banyak dan dibiarkan tak bergerak selama setahun maka harta itu menjadi kotor, itu sebabnya harus dibersihkan supaya bisa berkah bertumbuh. Maka merugilah orang-orang yang tak mau berzakat, sebab hartanya akan kotor, sehinga akan pula mengotori jiwanya, mengotori keluarganya, dan mengotori bisnis yang sedang dilakukannya. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Begitu juga dengan Zakat Fitrah/Fithri, dilakukan khusus untuk mensucikan atau membersihkan jiwa kita, atas dosa-dosa kita yang sudah menumpuk selama satu tahun. Itu sebabnya, supaya Zakat Fitrah/Fithri ini kinerjanya efektif dalam melakukan proses pensucian jiwa, maka jiwa kita selama sebulan penuh digembleng di Bulan Ramadhan. Kembalilah sang jiwa menjadi Fithri, ‘Iidul Fithri, in syaa Allaah.

💎 Wakaf berasal dari kata “Waqafa” yang artinya “menahan” atau “mencegah/Mencegat” atau “berhenti” atau “diam”. Itu mengapa Wakaf itu biasanya terkait dengan harta yang diam, seperti : tanah, rumah, masjid, air sumur, dlsb. Maka itu, hakikat wakaf bukanlah memberi sesuatu kepada orang lain, tapi kita membuat sebuah “ruangan/warung pahala” yang mana siapa pun yang mampir atau tercegat lalu berhenti di warung kita maka akan membuat kita mendapat tambahan pahala, yang selalu mengalir ke kita, walaupun kita sudah meninggal dunia.

🗣 Intinya, perintah Infak, Shodaqoh, Zakat, dan Wakaf bukanlah agar kita merasa jumawa sudah menjadi manusia dermawan karena memberi sesuatu kepada orang lain, sebab sebenarnya kita melakukannya hanyalah untuk kebaikan kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat, sebagai pembuktian iman, keyakinan dan cinta murni kita kepada Allah.

Bangunlah kesadaran bahwa semuanya adalah milik Allah, sehingga kita menjadi sangat ringan dan bersyukur ketika dimampukan Allah untuk melakukan aktifitas Infak, Sedekah, Zakat, dan Wakaf. Rasa ringan hadir dikarenakan tiada perasaan kehilangan, tiada perasaan kehilangan hadir dikarnakan tiada perasaan memiliki, dan ketiadaan perasaan memiliki hadir dikarenakan kita yakin 100% bahwa semua milik Allah.

Bila salah niat, maka tidak sedikit orang yang kecewa dan putus asa setelah memberi sesuatu kepada seseorang disebabkan orang yang diberi bantuan tersebut tak tahu berterimakasih. Akhirnya, ia memilih untuk menyerah memberi kepada orang yang tak tahu berterima kasih itu. Namun, apabila ia sadar diri dan tahu diri bahwa ia tak pernah mampu memberi apapun kepada siapapun, kecuali sebagai pembuktian keyakinan dan cinta dirinya kepada Allah dalam bentuk amal sholih berupa Infak, Shodaqoh, Zakat, dan Wakaf, maka ia tak perlu sakit hati dan menyerah dikarenakan akhlak tak mulia dari orang-orang yang telah “dibantunya” itu.

Beramal Sholihlah (Infak, Shodaqoh, Zakat, dan Wakaf) hanya karena Allah semata, untuk kebaikan Anda di dunia dan akhirat. Jangan merasa telah memberi, sebab kita tak pernah memiliki apapun, semuanya hanyalah milik Allah Subhaanahu wata’aalaa.

Jangan merasa telah memberi, tapi berinfaklah. Jangan merasa telah memberi, tapi bersedakahlah. Jangan merasa telah memberi, tapi berzakatlah, untuk mendatangkan kesucian harta dan jiwa. Jangan merasa telah memberi tapi berwakaflah. Sebab hakikatnya kita tidak pernah memberi, tapi kita hanya “merasa” telah memberi sesuatu kepada orang lain. So, if you never give then you never give up.

Mari kita jadikan momentum Ramadhan di Era Pandemi ini sebagai momentum untuk membuktikan keyakinan dan cinta kita kepada Allah melalui aktifitas Infak, Sedekah, Zakat, atau Wakaf.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallaahu’anhu, Rasulullah Shollallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

“Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Al-Tirmidzi)

Wallahu A’lam

Salam Shiyaam

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *