JADILAH-SI-BUTA-YANG-RENDAH-HATI
- Informasi

JADILAH SI BUTA YANG RENDAH HATI dan bukan menjadi SI BUTA YANG KE-PD-AN

JADILAH SI BUTA YANG RENDAH HATI dan bukan menjadi SI BUTA YANG KE-PD-AN

Al kisah al fiksi, di zaman dahulu, ada seorang tukang pijat panggilan yang buta. Setelah ia selesai memijat pasiennya, maka pamitlah ia.

Lalu si pasien berujar : “Wahai sahabatku, bawalah lampu senter ini”. Si Buta menjawab, ” Janganlah kau hina aku, aku ini buta, aku tak butuh senter untuk melihat, yang kubutuhkan hanyalah tongkat ini sebagai pedoman setiap langkahku”.

Si pasien pun membalas, “bukan itu maksudku, sekarang kan sudah malam, jika engkau membawa senter setidaknya engkau akan terlihat oleh orang lain sehingga tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan”. Akhirnya si Buta pun sepakat membawa senter tersebut.

Lalu berjalanlah ia dengan kencang dan sedikit lebih PD dari biasanya, tongkatnya hanya ia gunakan sesekali saja, namun di saat ia sedang asyik berjalan cepat tiba-tiba seseorang menubruknya dari arah depan.

Si Buta pun menegur keras “Hai … Siapakah engkau yang menubrukku? Tidakkah engkau melihat cahaya senter yang aku bawa?”

Ia pun menjawab, “Maaf tuan, saya tidak melihatnya, sebab sepertinya lampu senter tuan sudah mati dikarenakan kehabisan baterai”.

Sekian kisahnya.

HIKMAH yang bisa dipetik :

1. Jika kita sudah lihai mengendarai motor, lalu kita pun baru belajar mengendarai mobil, janganlah terburu-buru lalu ngebut mengendarai mobil karena merasa sudah bisa. Allah akan menguji setiap kita “merasa bisa”. Gunakanlah sentermu, tapi jangan lupakan tongkatmu.

2. Ketika kita buta ilmu, belum banyak tahu ini dan itu, maka janganlah merasa mampu mencerahkan orang-orang di sekitar kita. Biarkan cahaya senter itu menerangi sesama, tapi tetap terangi hatimu dengan tongkat yang telah dianugerahkan-Nya.

3. Jangan bergantung kepada kewaspadaan orang lain, dan jangan beranggapan bahwa orang lain pasti memaklumi kekuranganmu. Tapi jadilah orang-orang yang tetap waspada dan tetap berusaha memaklumi kekurangan sesama.

4. Jika engkau melupakan tongkatmu, peganganmu, pedomanmu atau kitabmu, tapi engkau justru semakin sering menasehati (menerangi) sesama maka semakin gelaplah jiwamu, butalah hatimu.

About Kang Zain

Read All Posts By Kang Zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *