- Inspirasi

JATAH NAPAS yang terlupakan

Kehidupan dan Kematian kita tentunya sudah diatur oleh Allah. Adapun salah satu ciri seseorang sudah mati ialah tak lagi bernapas, artinya seseorang itu mati ketika jatah untuk bernapasnya sudah habis.

Napas manusia dewasa kurang lebih sekitar 12-20 kali di setiap menitnya. Ambil saja rata-rata 16 kali napas per menit. Dimana sekali napas adalah sekali menghirup, menahan, dan menghembuskan udara.

Sehingga rata-rata kita bernapas dalam setahun adalah sekitar 8,4 juta kali. Dengan demikian, bila seseorang meninggal pada usia 60 tahun maka ia sudah bernapas sekitar 500 juta kali.

Namun demkian, sebenarnya kita tidak pernah tahu pasti, ajal kita itu tiba karena hanya faktor dari waktu atau bergantung juga dari faktor ketersediaan jatah sang napas.

Oke, anggap saja misalkan Allah sudah kasih kita jatah untuk bernapas sebanyak 500 juta kali. Maka ketika kita gunakan jatah napas ini secara normal, in syaa Allaah di usia 60 tahun ajal kita akan datang. Tapi jika kita bernapas secara irit, misalkan hanya 12 kali napas per menit, maka dalam setahun kita hanya bernapas sekitar 6,3 juta kali saja, sehingga diperkirakan ajal kita akan datang pada usia 79 tahun…

Subhaanallaah… Lumayan signifikan selisihnya… Apalagi jika Anda membaca hadits di bawah ini bahwa ternyata jatah rezeki seseorang memengaruhi kedatangan ajalnya..

“Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya….” (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud).

Tentu saja, salah satu bentuk dari Rezeki yang kita terima dari Allah adalah Napas. Nah, kalau Napas memang bagian dari Rezeki yang Allah berikan, maka jatah dan cara bernapas seseorang akan memengaruhi panggilan ajalnya.

Artinya, semakin irit penggunaan jatah bernapasnya maka semakin panjanglah usianya. Wow, Allahu Akbar.

Terlebih lagi, jika kita cermati dari sisi kesehatan, maka biasanya orang yang jiwanya tenang maka ia akan semakin sehat. Dan ciri orang yang jiwanya tenang adalah tidak boros napas, ia terbiasa bernapas dengan teratur dan dalam, sehingga penggunaan napasnya pun irit.

Itu sebabnya Marah itu tidak baik, karena biasanya orang yang marah itu boros dalam penggunaan napas. Begitu juga yang suka makan kuliner pedas level tinggi, itu pun berpotensi memboroskan napas. Shhh haaah sshh haaahhh….

Tapi jika Anda tidak percaya bahwa napas yang irit, tenang, dalam, dan terkendali itu dapat memengaruhi ajal Anda, tidaklah mengapa.

Namun, yang perlu diingat adalah bahwa tentunya kita ingin kelak di saat ajal tiba, kita mati dalam keadaan jiwa yang tenang, husnul khotimah. Itu sebabnya bernapas yang irit terkendali tetaplah penting untuk mensupport kualitas sang jiwa, mempersiapkan kematian terbaik kita.

Wallahu a’lam

Kang Zain
Jlebb.com

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *