- Inspirasi

K3 dalam perspektif Spiritual Beragama

(K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Insting dasar setiap makhluk hidup adalah mencari dan menjaga “Keselamatan” diri, yakni mempertahankan hidupnya selama mungkin, bahkan kalau bisa Abadi.

Adapun Khusus manusia, selain mencari keselamatan yang selama mungkin, yang juga perlu dipenuhi adalah hadirnya “kenyamanan atau kenikmatan”.

Itu sebabnya, Tuhan menawarkan Surga kepada hamba-hamba-Nya yang konsisten berbuat benar dan baik di muka bumi, sebab isi dari Surga adalah : Keselamatan, Kenikmatan, dan Keabadian.

So, sejatinya tujuan setiap orang memeluk suatu agama tertentu adalah agar hidupnya SELAMAT dan NIKMAT secara ABADI.

Saya sebagai seorang Muslim memahami bahwa arti “Muslim” secara bahasa adalah Orang yang Selamat. Itu sebabnya menjadi diragukan kemusliman seorang Muslim bilamana tidak peduli kepada unsur-unsur keselamatan. Misalkan ia mengendarai Motor di Jalan Raya tapi tanpa menggunakan Helm, atau menyetir Mobil tapi tanpa menggunakan Sabuk.

Di sisi lain, kita paham bahwa Kenikmatan tidak akan terjadi tanpa adanya Kesehatan. Artinya, walaupun kita selamat dari berbagai musibah yang datang, tetapi bila tubuh dan jiwa kita sakit maka tidak akan hadir yang namanya Kenikmatan.

Itu sebabnya orang yang beragama pasti akan peduli dengan K3, atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan berusaha ta’at K3 untuk kepentingan bersama.

Btw, apa sih perbedaan antara Keselamatan dan Kesehatan?

Keselamatan itu lebih bersifat eksternal, sedangkan Kesehatan itu lebih bersifat internal. Sistem Keselamatan di tempat kerja bisa memengaruhi kualitas kesehatan para pekerja, dan juga kualitas kesehatan para pekerja bisa memengaruhi sistem keselamatan yang ada.

Lawan kata Selamat adalah Celaka, sedangkan Lawan kata Sehat adalah Sakit. Biasanya kecelakaan itu sifatnya Akut, tiba-tiba. Sedangkan Sakit itu sifatnya Kronis, bertahap.

Nah, siapapun yang sedang ditimpa sakit atau kecelakaan dikatakan sebagai seseorang yang sedang terkena “Musibah”.

(Q.S. An-Nisā’):79 – Apa saja Kebaikan (Keselamatan & kenikmatan) yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja MUSIBAH yang menimpamu, maka dari (kelalaian) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Dalam ayat suci di atas dijelaskan bahwa setiap Musibah (Kecelakaan dan Sakit) yang terjadi pada setiap manusia maka itu dikarenakan kelalaian dari manusia tersebut.

Sedangkan setiap Kebaikan (Keselamatan dan Kesehatan) itu hadir dari Allah. Maksud “hadir dari Allah” adalah ketika manusia serius menjaga sistem keselamatan dan kesehatan yang sudah Allah tetapkan.

Nah, dikarenakan Allah itu menilai segala sesuatunya secara holistik, maka tidaklah benar ketika kita hanya berusaha selamat dan sehat di tempat tertentu saja, sedangkan kita lalai di tempat lainnya.

Contohnya, Walau kita sudah menjaga K3 di tempat kerja kita, tapi ketika di rumah atau di jalan raya masih sering lalai, maka musibah bisa terjadi kapan saja, bahkan justru musibah malah terjadi di saat kita sedang fokus kepada keselamatan.

Sebab Kebaikan itu saling terhubung tidak tersekat dengan apapun, begitu juga dengan musibah. Mungkin Kita sering mengalami, berbuat baik di wilayah A, ternyata kita dapat keselamatan dan kenikmatan di wilayah F. Walaupun A dan F terpisah jauh secara jarak, tapi secara energi spiritual mereka saling terhubung.

Begitu pun, bila di kantor kita ta’at K3, tapi di rumah atau di jalan raya kita sering melanggar, maka Musibah bisa saja datang justru di saat kita sedang di kantor. Sebab Kebaikan dan Musibah itu tidak tersekat, alias menembus ruang dan waktu. Maka tetaplah berusaha ta’at K3 dimana pun kita berada.

Nah K3 secara spiritual inilah yang juga perlu kita tanamkan di dalam jiwa kita. Sebab hakikatnya jiwa kita adalah magnet yang mengundang berbagai peristiwa, baik peristiwa Selamat ataupun peristiwa Celaka.

Bila jiwa kita tidak sehat dikarenakan pikiran dan perasaan sering tidak selaras, maka hakikatnya kita sedang mengundang tamu musibah ke dalam hidup kita.

Artinya, walaupun secara lahirlah kita sudah ta’at K3, namun bila kita masih sering mendendam, pemarah, mudah iri dengki dan lain sebagainya, maka wajar saja bila Musibah masih sering hadir mampir dalam berbagai bentuknya.

Itu sebabnya, bila hati kita lapang dan luas, akan jauhlah diri kita dari Nerakanya Dunia; yaitu Musibah. Maka tak heran bila Allah gambarkan Surga itu sangat luas seluas langit dan bumi, karena memang Surga itu disiapkan bagi orang-orang yang berhati lapang dan luas. Sedangkan bagi orang yang hati atau jiwanya sempit lebih layak diberikan musibah.

Nah, berikut ini adalah cara-cara menghindari musibah secara spirtual holistik.

1. Terima dan hadapi dengan ikhlas kesulitan

2. Maafkan siapapun dan apapun yang menyakiti hati

3. Syukuri sesering mungkin setiap kenikmatan yang diterima walaupun nilainya kecil

4. Tetap lapangkan hati apapun yang terjadi, walau kenyataan tidak sesuai dengan keinginan

5. Ta’ati aturan K3 yang sudah dibuat oleh Perusahaan dan juga berusaha peduli Keselamatan dan Kesehatan dimana pun dan kapan pun.

6. Perbanyak minta ampun kepada Tuhan, dan teruslah mengingat Tuhan supaya hati tenang dan lapang.

7. Lakukan terus proses “Empat-i” (Introspeksi, Identifikasi, Inisiatif, dan Inovasi).

Salam Jlebb

Kang Zain

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *