- Artikel JLEBB

LATIHAN MENGAMATI DIRI UNTUK KETENANGAN HOLISTIK SEJATI

Pengamatan adalah kunci jauhnya diri seseorang dari penderitaan. Selama kita mampu membuat jarak antara yang di amati dan yang mengamati maka jiwa menjadi lapang, lalu kita tak membuat jarak dengan Yang Maha Mengamati maka jiwa menjadi Tenang. Kelapangan dan Ketenangan ini akan melahirkan Ketenangan yang Holistik.

Pengamatan adalah sebuah keputusan diri kapan saatnya membuat jarak dan kapan saatnya menghilangkan jarak. Membuat jarak dengan makhluk, dan menghilangkan jarak dengan Tuhan adalah kunci jauhnya diri seseorang dari penderitaan.

Baiklah, jika kini di depan Anda ada Buku, maka coba amati Buku Anda. Nah, siapakah yang mengamati Buku? Ya, tentu saja “Anda”. Anda yang bagian mana? Apakah tangan Anda, hidung Anda, mata Anda, pikiran Anda, atau lainnya?

Maka yang mengamati Buku adalah “Indera Penglihatan” Anda. Lalu siapakah yang mengamati indera penglihatan Anda? Mungkin Anda bingung, siapa ya? Ya, Anda lah yang mengamati. Anda yang mana? Maka sebenarnya yang mengamati indera penglihatan Anda adalah “Perasaan” Anda.

Pertanyaan pun terus berlanjut. Lalu siapakah yang mengamati Perasaan Anda? Anda pun mulai bingung lagi. Sebenarnya yang mengamati Perasaan Anda adalah “Pikiran” Anda. Nah, siapakah yang mengamati Pikiran Anda? Jawabannya yaitu, yang mengamati Pikiran Anda adalah “Keyakinan” Anda. Lalu siapakah yang mengamati Keyakinan Anda? Maka jawabannya, yang mengamati Keyakinan Anda adalah “Ruh” atau “Keimanan” Anda. Lalu siapakah yang mengamati Keimanan Anda? Maka jawabannya adalah “Ketidaktahuan” atau “Keberadaan”.

Apakah “Keberadaan” itu? Yaitu suatu Dzat yang tak mampu dianalisa oleh manusia dan oleh semua makhluk, tanpa bentuk rupa, tanpa warna, melampaui gelap dan cahaya, tanpa apapun yang diketahui oleh manusia. Nah kini, siapakah yang mengamati Sang Keberadaan? Maka tak lain tak bukan jawabannya pasti Yang Maha Ada, Yang Maha Hidup, Yang Maha Kekal, yaitu ALLAH. Allah lah yang sedang mengamati Anda yang sedang mengamati apa yang Anda amati.

Karena Allah mengamati Keberadaan, lalu Keberadaan mengamati Keimanan, lalu Keimanan mengamati Keyakinan, lalu Keyakinan mengamati Pikiran, lalu Pikiran mengamati Perasaan, lalu Perasaan mengamati Panca Indera, lalu Panca Indera Mengamati benda-benda, maka SEJATINYA ALLAH lah yang MENGAMATI SEGALANYA. Itulah Proses IHSAN, mengamati keberadaan-Nya, dan yakin pasti diamati-Nya.

Ya, sebetulnya hanya Allah yang Asli sedangkan lainnya hanyalah “bayangan”-Nya, bahkan hanya bayangan dari bayangan dari bayangan dari bayangan-Nya. Panca indera adalah bayangan, Pikiran dan Perasaan adalah bayangan, Keyakinan dan Keimanan adalah bayangan, Keberadaan pun hanyalah bayangan, yang asli hanyalah ALLAH.

Ibarat bayangan yang berbayang, maka bayangan dari keimanan adalah keyakinan, bayangan dari keyakinan adalah pikiran, bayangan dari pikiran adalah perasaan, bayangan dari perasaan adalah Panca Indera, bayangan dari panca indera adalah benda atau apa-apa yang diindera oleh panca indera. Jika hidup kita hanya berdasarkan Panca Indera maka kita hidup pada level bayangan yang sangat rendah, yang menyebabkan kita akan jauh dari Allah ta’aalaa yang tidak bisa diindera oleh Panca Indera.

Wallahu a’lam

Salam Ihsan

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *