- Inspirasi

LoA, Frekuensi Cinta, Pelet, dan Santet

Alhamdulillah….

Rupanya hidup ini hanyalah permainan Frekuensi…., ingin berada di frekuensi yang mana kah kita hari ini, itu adalah pilihan kita sendiri…

Jika  kita berbicara tentang KEMUDAHAN, berarti kita sedang membicarakan Frekuensi KEMUDAHAN. DAN kalau kita bicara Frekuensi KEMUDAHAN maka ada Frekuensi lainnya yang bernama KESULITAN. Dan Allah sudah memberikan DUA Pilihan kepada kita, ingin pilihan yang MEMUDAHKAN ataukah ingin pilihan yang MENYULITKAN. Hanya saja seringkali bahwa pilihan yang MEMUDAHKAN pada awalnya terlihat SULIT, begitupun sebaliknya.

Pada hakikatnya Allah tidak menyediakan KEMUDAHAN dan KESULITAN itu secara BERGILIRAN, tapi secara BERSAMAAN. Allah siapkan KEMUDAHAN itu 24 jam sehari dan Allah pun siapkan KESULITAN itu 24 jam sehari, kita tinggal mau pilih yang mana? FREKUENSI mana yang akan kita gunakan.

Itu sebabnya penting yang namanya LATIHAN. Sebab Latihan adalah usaha untuk “Menyelaraskan Frekuensi” dengan hal yang kita INGINKAN.

Kalau ingin bisa BERMAIN PIMPONG maka kita harus Latihan PIMPONG.
Kalau ingin bisa BERMAIN VOLLEY maka kita harus Latihan VOLLEY
Kalau ingin hidup MUDAH maka harus LATIHAN HIDUP MUDAH, yaitu hidup tanpa TERIKAT BEBAN.

Itu sebabnya, MEMAAFKAN itu adalah Latihan Hidup Mudah, Latihan Hidup Berlapang Dada, Latihan Hidup Bebas Beban Kotoran Hati; sehingga jika kita RAJIN MEMAAFKAN maka kita akan diselimuti oleh berbagai kemudahan.

“Memaafkan” adalah membangun FREKUENSI HIDUP MUDAH. Itu sebabnya orang yang enggan memaafkan ialah orang yang sedang bersukarela untuk hidup SULIT secara Sejati.

Selain MEMAAFKAN, berikut ini adalah beberapa LATIHAN HIDUP MUDAH :

1. Menyerahkan Beban kepada Allah (Tawakkal). Dengan Tawakkal maka hidup kita menjada ringan.

2. Bersyukur, dengan bersyukur berarti kita fokus kepada kemudahan dan kenikmatan, dan kita akan mendapatkan dan merasakan apa yang kita fokuskan.

3. Sedekah, berarti kita Melepas Berbagai Materi yang Memberatkan Kehidupan kita, karena seringkali materi yang ada itu mengikat jiwa kita. “Sedekah” adalah sebuah LATIHAN agar kita tidak membiasakan diri terikat kepada materi.

Nah, apakah hubungan FREKUENSI ini dengan Cinta, Pelet, dan Santet?

Anda adalah makhluk elektromagnetik yang memancarkan frekuensi. Hanya hal-hal yang berada dalam frekuensi yang sama dengan frekuensi yang Anda pancarkanlah yang bisa datang ke pengalaman Anda. Setiap orang, peristiwa, dan situasi di dalam hari Anda memberitahukan di frekuensi mana Anda berada. (Rhonda Byrne – The Secret)

Ayoooo… frekuensi apa yang hari ini sedang Anda pancarakan? lihat saja kondisi orang-orang di sekitar Anda, kondisi lingkungan yang ada di sekitar Anda, apakah banyak koruptor? hehe

Baiklah, disinilah pentingnya menyeimbangkan antara SYUKUR dan IMPIAN. Karena, kalau kita terlalu banyak bermimpi yang terjadi adalah kita akan kehilangan rasa syukur, kalau hanya fokus bersyukur tanpa bermimpi, maka akan tidak mudah untuk diduplikasikan.

Walaupaun ada yang komentar, “Kang, saya tak perlu impian, karena dengan saya terus bersyukur ternyata Allah memenuhi semua kebutuhan saya”..

Nah, dari pernyataannya ia masih mengetahui bahwa ia memiliki KEBUTUHAN artinya ia memiliki IMPIAN. Hanya saja, impiannya tidak dia umbarkan ke semesta, hanya dia “bisikkan” saja kepada Sang Ilahi Yang Maha Mendengarkan dan Maha Mengabulkan.

Artinya, sebetulnya kita semua PUNYA MIMPI, tapi ada yang TERANG-TERANGAN dan ada yang DIAM-DIAM, silakan saja dua-duanya boleh, yang tak boleh adalah TERANG-TERANGAN tak mempunyai impian, atau DIAM-DIAM menjadi putus asa karena tak kunjung sampai kepada impiannya.

IMPIAN memiliki Frekuensi…
dan SYUKUR pun memiliki Frekuensi..

Nah tugas kita, bagaimana caranya MENSELARASKAN Frekuensi Impian dengan Frekuensi Rasa Syukur. Untuk mengetahui caranya bagaimana, jangan lupa ikuti Pelatihan Online “LoA and LoC” in syaa Allaah MALAM INI. Info lengkap cek BC saya sebelumnya.

Sekarang kita masuk ke poin pembahasan utama, khususnya yang ditunggu oleh para bujang yaitu tentang Cinta, Pelet, dan Santet….

Sebelumnya, mohon keikhlasannya untuk mempersiapkan diri. Ya, silakan persiapkan diri Anda untuk rileks… tenang menerima kenyataan yang sedang dan akan terjadi…. tarik nafas yang dalaam…pelaaan..terus tariiik…tahan 4 hiitungan…hembuskan perlahan…ucapkan istighfar dan hamdalah….dan katakanlah “Ya Allah saya terima semua kenyataan yang akan ditulis oleh Kang Zain, maafkanlah ia, ampuni semua dosa-dosanya, dan maafkanlah kami semua. Dan kami serahkan semuanya kepadaMu, karena Engkaulah Pemilik Kebenaran Sejati”.

Hmmm, oke saya rasa Anda sudah siap Sahebatku…

Anda tentunya sudah pernah Jatuh Cinta (atau Bangkit Cinta..terserah deh) kepada seseorang. Dan biasanya ada rasa “deg-degan” di dada sebagai pertanda bahwa Qolbu Anda sudah terikat dan tertarik kepada orang yang Anda cintai. Bahkan, sedikit saja “gacoan” Anda bergerak maka rasanya sudah tertarik Qolbu ini secara duahsyat, nyaris keluar dari dalam dada … Ya, jangankan tubuhnya yang bergerak, baru mendengar namanya saja maka bergetarlah seluruh alam semesta mikro di tubuh Anda. Subhaanallah… daya ikat yang nyata…

Padahal, ketika kita berbicara tentang Frekuensi Cinta yang murni maka seharusnya yang hadir adalah getaran-getaran yang berbeda… terikat memang…tergetar memang… tapi keterikatan dan getarannya menimbulkan ketenangan, bukan kegelisahan.

Sehingga, jika kita sedang Jatuh Cinta kepada seseorang maka salah satu rahasianya agar jiwa kita tidak gelisah adalah : LEPASKANLAH IKATAN Qolbu Anda kepada orang itu dan alihkan kepada Allah yang Maha Mengikat. Allaahush Shomad, Allah tempat bergantung, Allah tempat mengikat. Maka kegelisahan akan berubah menjadi ketenangan, sehingga Cinta sejati bisa muncul dan menarik cinta sejati lainnya… yaitu pernikahan..bukan pacaran…

Sahebatku yang penuh gairah dalam ketenangan yang sejati….

Ketika cinta hadir maka biasanya secara otomatis kita memiliki KEINGINAN untuk MEMILIKI orang yang kita cintai. Dan itulah IMPIAN kita, sang Gacoan Cinta yang penuh pesona. Apakah impian cinta itu masih dipendam atau sudah diakui dan diproklamirkan ke semesta. Dan biasanya, ketika keinginan itu kuat mengikat Qolbu, maka yang terjadi adalah “kegelisahan” bahkan “super gelisah”. Malam gak bisa bangun…makan susah sedikit…karena selalu terbayang-bayang bayangannya..hehe…

Sedangkan kegelisahan bermain pada “Frekuensi Kesulitan”. Sehingga, ketika kita gelisah maka kita sedang mengundang kesulitan di dalam kehidupan kita, baik kita mendapatkan impian kita ataukah kita tidak mendapatkan impian kita. Yakni apakah kita jadi menikah dengannya, atau bahkan cuman pacaran plus maksiat, atau bahkan cuman sampai dilamar lalu ditolak, atau bahkan juga kenalan aja gak sempet… Hmm, pokoknya rugi deh kalau pondasinya kegelisahan…. apalagi kalau sampai nikah… sayang banget kan kalau kita menikah dengan pondasi kegelisahan… ayooo..yang dulu kayak gitu pas nikahnya…segera beristighfar dan ubahlah frekuensi Anda… ^_^

Dengan demikian, tugas Anda yang sedang Jatuh cinta adalah : “HILANGKAN KEGELISAHAN” dan hadirkan FREKUENSI KETENANGAN. Sehingga, apapun yang terjadi kelak atas IMPIAN Anda tersebut maka Anda tetap TENANG dan BAHAGIA, sebab Anda sedang mengundang ketenangan dan kedamaian ke dalam hidup Anda. TENANG SAJA, Allah PASTI memberikan yang TERBAIK dan TERPANTAS untuk Anda…. “Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu sangat buruk bagimu… (Q.S. 2:216)”

Itu sebabnya, IMPIAN dan SYUKUR itu harus berada dalam satu paket. Artinya, Impian Anda terhadap orang yang Anda kasihi harus Anda imbangkan dengan rasa syukur Anda terhadap orang yang sudah ada di sekitar Anda. Anda tidak perlu membayangkan si do’i yang Anda impikan itu “seolah-olah” sudah menjadi milik Anda, lalu Anda syukuri keberadaannya sambil asyik membayangkan yang “iya-ya” … bukan begitu… sebab kalau begitu bisa mendatangkan kemudaratan “yang tak terduga” di dalam kehidupan Anda, itulah rasa syukur yang menghadirkan kegelisahan… syukur yang salah alamat..

Lalu kumaha atuh? Yakni, cukup dengan mensyukuri dengan sepenuhnya…melatih rasa kasih dan cinta Anda sepenuhnya…melatih memberi ketulusan dan pengorbanan sepenuhnya…kepada orang-orang yang sudah “diamanahkan-Nya” kepada Anda… : ibu Anda, Ayah Anda, saudara-saudara Anda…. yang mana ketika Anda melatih diri untuk terus mencintai… maka “KEMAMPUAN CINTA” Anda terus bertambah, Frekuensi Anda akan terus meningkat, sehingga ALLAH menganggap Anda PANTAS menerima amanah cinta lainnya… dan bisa jadi amanah itu adalah “gacoan Anda”…. asyiiiik… alhamdulillaah….. segala puji, keindahan, dan kehebatan hanya milik Allah Subhaanahuwata’aalaa..

Oke kita lanjutkan…

Intinya bahwa semua kejadian yang ada di muka bumi ini memiliki frekuensinya masing-masing, yang secara garis besar bahwa Frekuensi itu dibagi mejadi dua yaitu : Frekuensi Baik (Kemudahan) dan Frekuensi Tidak Baik (Kesulitan).

Contoh Frekuensi Baik : Cinta, Kasih Sayang, Ikhlas, Taqwa, Teliti, Berlapang Dada, Berserah, Bertekad, Yakin, dan Tenang.

Contoh Frekuensi Buruk : Curiga, Kesal, Malas, Egois, Kecewa, Dendam, Merasa Hebat, Sombong, Marah, Gagal Tawadhu, dan Gelisah.

Dan berbagai Frekuensi ini “terselimuti” oleh amal. Sedangkan kebanyakan kita mudah tertipu oleh “Amal yang terlihat”. Amal boleh saja menipu banyak orang, tapi Frekuensi yang kita bangun itu adalah jujur. Nah, Allah melihat frekuensi apa yang kita pancarkan, bukan sekedar melihat amal apa yang kita lakukan.

Tentang hal ini ada “empat tingkat” Frekuensi dan amal:

1. Amalnya Terlihat Tidak Baik, Frekuensinya Tidak Baik.
Contoh: Amalnya Pelet, Frekuensinya Egois. Amalnya Korupsi, Frekuensinya  Malas Bekerja..

2. Amalnya terlihat baik, frekuensinya tidak baik.
Contoh : Amalnya Sholat, tapi Frekuensinya Sombong.
Amalnya Sedekah, tapi frekuensinya Riya.

3. Amalnya Terlihat Tidak Baik, frekuensinya baik.
Contoh : Amalnya mencuri, tapi frekuensinya terpaksa untuk bertahan hidup.
Amalnya menceritakan “kehebatan diri”, tapi frekuensinya berbagi pengalaman hidup sebagai pembelajaran untuk semua..

4. Amalnya Terlihat Baik, Frekuensinya Baik.
Contoh : Amalnya Menikah, Frekuensinya Cinta.
Amalnya Tahajud, Frekuensinya Khusyu.

Nah, karena dalam kehidupan ini kita berhadapan dengan manusia biasa, maka “Sebisa mungkin bermainlah hanya di frekuensi tingkat 4 : Amalnya Terlihat Baik, Frekuensinya Baik, atau kalau terpaksa maka sesekali bermainlah di tingkat 3 : Amalnya terlihat tidak Baik, tapi Frekuensinya tetap Baik.”

Nah, Sahebat Jlebb yang berbahagia…

Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap Frekuensi akan menarik Frekuensi yang sama. Kalau Frekuensi tingkat 1 yang sering digunakan maka kita akan mendapatkan banyak orang-orang bertipe 1 di sekitar kita, kalau frekuensi tingkat 4 yang kita pancarkan maka banyak orang-orang bertipe 4 berada di sekitar kita. Nah frekuensi di tingkat mana yang sering Anda pancarkan?

Begitupun dengan Cinta…

Jika Anda memiliki Cinta dengan frekuensi tingkat 4, yakni tujuannya menikah dan lalu dilakukan dengan prosedur yang baik dan indah, maka insya Allah Anda akan mendapatkan pasangan yang memancarkan frekuensi yang sama dengan Anda. Tapi jika Anda menikah dengan frekuensi “sekedar menggugurkan hawa nafsu secara halal” maka tak perlu heran jika pernikahan Anda hanya dipenuhi dengan berbagai hal yang sifatnya “sekedar menggugurkan kewajiban”. Sebuah kehidupan yang dipondasikan rasa malas yang tinggi, lumayan membosankan…

Kini kita bahas tentang santet dan pelet..

Nah jika ada orang yang ingin nyantet atau melet, maka tentu saja artinya frekuensi santet dan peletlah yang sedang ia bangun. Perkara itu masuk Frekuensi tingkat 1. Itu sebabnya jika Anda disantet, maka tetaplah berada di frekuensi tingkat 4, sehingga frekuensi santet yang dipancarkan oleh orang lain kepada Anda tidak akan nyambung/ngaruh…

Tapi karena iman itu kadang naik dan kadang turun, maka terkadang ketika frekuensi iman kita turun ke level 3, 2, bahkan sampai level 1, maka bisa saja efek dari santet itu akan berpengaruh. Semakin lama turunnya maka semakin dalam pengaruhnya. Nah, kalau seseorang disantet lalu ia pergi ke dukun agar tidak kena santet, maka ia JUSTRU sedang menjerumuskan dirinya masuk ke frekuensi 1. Dan ini sangat berbahaya…

Frekuensi tingkat 1 akan ampuh memengaruhi frekuensi tingkat 1 lainnya dan “masih cukup ampuh” memengaruhi frekuensi tingkat 2. Tapi frekuensi tingkat 1 akan kesulitan memengaruhi frekuensi tingkat 3 apalagi sampai memengaruhi manusia yang berada di frekuensi tingkat 4.

Tentu saja, kecuali Allah berkehendak lain…. sebab DIAlah yang menguasai frekuensi di alam semesta ini…

Salam Berkah

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *