Ma'rifatud-Duren,-Menghakikatkan-Syari'at-dan-Mensyari'atkan-Hakikat,-Dengan-Thoriqoh-Durenniyah
- Motivasi

Ma’rifatud Duren, Menghakikatkan Syari’at dan Mensyari’atkan Hakikat, Dengan Thoriqoh Durenniyah

Menghakikatkan syari’at dan mensyari’atkan hakikat, dengan Thoriqoh Durenniyah

Apa yang Anda bayangkan ketika seseorang menyebutkan nama Duren atau Durian? (bukan Duren si Duda Keren ya…) ^_^

Ya, ketika kita denger Duren…. Hmmm…yummii… Apalagi Kalau ada orang menawarkannya kepada Anda … Free…makan sekenyangnya… waw.. tentu saja, bagi Anda penggemar Duren sejati pasti langsung happy… atau bahkan bersujud syukur kepada-Nya…

Sekarang, yuk kita belajar dari Sang Duren….

Kalau diperhatikan, kita bisa belajar beragama Islam dengan lebih baik dari berbagai unsur Karakter sebuah Duren.

Sebelumnya mari kita kenali bahwa setidaknya ada Empat Unsur Karakter pada Buah Duren yang keren…

1. Kulit Duren : keras, tajam, kokoh, melindungi, dan agak sangar.

2. Daging dan Rasa Duren : tertutup/tersembunyi/terlindungi, tebal, legit, dan lezat.

3. Biji Duren : keras, pahit, tapi bila direbus jadi enak, bisa dibuat cemilan, dan siap dikubur sebagai benih/penerus kelestarian sang duren.

4. Aroma Duren : halus, lembut, wangi, terasa tapi tak terlihat, menggoda tapi kadang memabukkan, dan sulit menghilangkan bekas aromanya yang kuat menembus pikiran dan perasaan.

Dalam Q.S. Al Layl ayat 4 disebutkan : “Inna sa’yakum lasyattaa”, artinya :  “Sungguh usaha kalian benar-benar beraneka cara”.

Siapa di antara Anda yang memiliki saudara, teman, atau kenalan yang memiliki latar belakang yang sama?

– waktu lahir sama
– orang tua sama
– dididik dengan cara yang sama
– sekolah di tempat yang sama
– bertemu orang-orang yang sama
– membaca buku-buku yang sama
– mempunyai hobi dan passion yang sama

???

Pasti tidak ada. Pasti kita semua memiliki usaha yang saling berbeda, agar saling melengkapi.

Dengan perbedaan yang signifikan itu wajarlah setiap orang memiliki pola pikir, pola rasa, dan pola keyakinan yang berbeda. Hanya Tauhid keimanan kepada Allah yang menyatukan mereka. Maka sangatlah ANEH apabila ada orang yang memaksakan pola pikirnya kepada orang lain, padahal hidayah itu hak Allah.

“Sesungguhnya hanya kewajiban Kamilah untuk benar-benar memberikan petunjuk/hidayah” (Q.S. Al Layl :12).

Ada orang-orang yang sukanya menegakkan kulit duren, walau harus berdarah-darah dalam menegakkannya. Allah berikan kelebihan atas mereka untuk melek Syari’ah.

Ada orang-orang yang berfokus menikmati daging durennya, ia enggan bahkan khawatir terluka ketika mengupas kulit duren yang tajam. Seolah-olah ia cari aman, tapi sebenarnya ia terlalu fokus kepada inti sari duren itu. Inilah mereka yang Allah berikan kelebihan untuk melek Hakikat.

Ada juga orang-orang yang sudah tidak begitu mementingkan kenikmatan untuk dirinya dan tidak suka memaksakan kehendaknya pada orang lain. Baginya wangi duren sudah memuaskannya, dan itu pun ia tak sampai hati bila durennya menganggu kestabilan aroma semesta. Lalu untuknya, ia cukup merebus sebagian biji duren  dan menanam/mengubur sebagian yang lain agar perjuangan durenniyah ini ada yang meneruskan lestari sampai hari dibangkitkan. Biarlah daging dan kulit untuk mereka yang memang mendoyaninya. Inilah mereka yang dikasih kelebihan melek ma’rifah oleh Allah.

Lalu mana yang terbaik? Biarlah Allah yang menilai. Kalau bicara Islam Kaaffah maka tentunya yang terbaik adalah yang mampu meletakkan unsur-unsur duren pada tempatnya. Menjadi pribadi yang berma’rifat, berhakikat, dan juga bersyari’at.

Nah, sahabat Duren Sejati, itulah sekilas Thoriqoh Durenniyah, jadi menurutku sih Duren terbaik adalah Duren yang bentuknya BESAR, kulitnya KUAT melindungi, Matang dari pohonnya, WANGI aromanya, RASAnya ENAK, ISInya AMPEG (Lebih besar Dagingnya dibandingkan Bijinya), dan sebagian bijinya diREBUS atau diKUBUR di dalam tanah agar tetap hidup lestari.

Bagaimana menurutmu?

Salam,

About Kang Zain

Read All Posts By Kang Zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *