- Artikel JLEBB

Memahami 9 Elemen Struktur Sholat sebagai Terapi Mental Yang Menolong

Rasulullah menjelaskan, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan maka lakukanlah shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah.” (HR Al-Bukhari).

Dalam QS. 2 ayat 45 disebabkan bahwa “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu…”

Jika dipahami strukturnya, maka sangatlah wajar bila sholat bisa menjadi penolong.

Dan kalau kita simak maka struktur pendirian Sholat disusun atas 9 Elemen.

Kesembilan elemen tersebut adalah :

  1. Iftitah sebagai kalimat pembuka dan Afirmasi

Dalam Iftitah diisi dengan berbagai pujian, do’a dan kalimat afirmasi, salah satu contoh kalimat afirmasi di ifititah adalah “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Wajah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan aku bukan termasuk golongan orang yang musyrik” …

  1. Alfatihah sebagai Induknya bacaan sholat yang berisi pujian, pengakuan, dan do’a

Alfatihah mengajak kita hanya untuk memuji Allah karena hanya Allah yang pantas dipuji.

Kita akui bahwa kita hanya mengbadi dan memohon pertolongan kepada Allah.

Dan kita berdo’a agar diberikan hidayah agar Istiqomah berada di jalan yang benar yang penuh dengan kenikmatan.

  1. Bacaan Surat bebas atau beberapa ayat setelah Alfatihah

Adalah bacaan lanjutan setelah Alfatihah yang sifatnya tambahan. Bebas, sukarela, yang penting benar dan nikmat.

Ketika sedang sholat Sunnah sendirian maka di sesi elemen ini bisa kita lakukan muroja’ah, yaitu memelihara dan mengulang surat di Al-Qur’an yang sudah kita hapalkan.

  1. Ruku’ adalah Elemen Ketulusan Sinergi Semesta

Ketika kita Ruku’ hakikatnya kita sedang memuji dan mengagungkan Allah atas berbagai ciptaan-Nya yang keren-keren.

Dalam Elemen Ruku’ ada fungsi leadership, fungsi kekhalifahan.

Ketika kita Ruku’ maka semua hamba Allah itu sejajar dan saling berlomba menuju Allah. Bersatu dan bersinergi untuk merasakan kebesaran Ilahi.

Ruku’ mengajarkan kita untuk menghormati sesama, menghormati alam semesta, menghormati segala ciptaan-Nya.

Ruku’ mengajarkan ketulusan dalam bersinergi dengan sesama. Jangan saling hina, sebab semua kita adalah ciptaan Allah yang Mahaagung dan Mahaterpuji.

  1. I’tidal sebagai Pengakuan bahwa pujian Allah melampaui langit dan bumi

Ketika imam berkata : “Allah Maha Mendengar bagi siapapun yang memuji-Nya”

Maka berlomba-lombalah para makmum mengucapkan : “Ya Robbanaa, bagi-Mu segala puji, dari seluruh langit dan dari seluruh bumi, dan dari antara keduanya, dan dari segala sesuatu setelah keduanya”.

Sehebat apapun ciptaan Allah, tentunya kita harus akui bahwa Allah lah yang paling hebat.

  1. Sujud adalah keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.” (HR. Muslim)

Kalaulah Ruku’ mengajarkan ketulusan, maka Sujud mengajarkan Keikhlasan.

Ruku’ bernuansa hablumminannas wa hablumminalkaun (hubungan dengan alam), sedangkan sujud murni berdimensi hablumminallaah.

Dalam Elemen Sujud ada fungsi followership, fungsi ke-Abdullah-an.

Itu sebabnya saat terdekat hamba dengan Tuhannya adalah di waktu sujud.

Maka di saat inilah harusnya kita berlatih melenyap, mengosongkan berbagai keinginan dengan cara memfokuskan jiwa kita hanya kepada Allah yang Maha Tinggi dan Terpuji.

Allah Yang Mahaindah, sehingga ketika kita tersentuh keindahan-Nya di waktu sujud maka semua masalah kita akan tampak mengecil bahkan sirna.

Masalah hanya eksis Istiqomah di hati orang-orang yang sibuk mengeksiskan dirinya sendiri lalu lupa mengeksiskan Allah, padahal tubuhnya sedang bersujud.

  1. Duduk di antara dua sujud adalah Do’a yang penuh berkah

Di elemen ke 7 inilah harusnya kita khusyu berdo’a “sapu jagat” kepada Allah. Banyak orang sholat melewati sesi elemen ini tanpa ketenangan, melainkan dengan tergesa-gesa.

Mereka Membaca do’a “Robbighfirlii dst sampai wa’fu’annii” dibaca dengan kecepatan tinggi. Padahal isi do’a di antara dua sujud ini sangat baik dan meliputi semua kebutuhan kita.

Do’a hebat lengkap dunia akhirat di antara dua sujud… Yap “di antara dua sujud”, do’a di antara dua posisi keberserahdirian, do’a di posisi yang sungguh mustajab.

Namun hari ini sebagian orang berdo’a meminta kenikmatan dunia di waktu sujud, padahal di saat sujud seharusnyalah kita lebih fokus untuk memuji, meninggikan, mensucikan Allah dan berdo’a untuk berbagai kebutuhan akhirat, misalkan do’a agar diwafatkan dalam keadaan Husnul khatimah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim)

  1. Duduk Tahiyat/Tasyahud sebagai bentuk penghormatan dan kesaksian kepada Allah dan Rasul-Nya

9. Salam sebagai simbol Empati untuk menebar manfaat dan keselamatan kepada semesta

Wallahu a’lam
KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *