- Inspirasi, lainnya, Public Training

#part5 Diawali Dengan Memahami Hakikat HAJI, Semoga HAJI Anda MABRUR 😊🤲

Selama hari Tasyrik, yakni 11-13 Dzulhijjah, jama’ah melakukan prosesi mabit (bermalam) di Mina sambil siangnya melakukan Lempar Jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqobah.

Selama Mabit di Mina Jama’ah diharapkan bisa melakukan proses saling mengenal dan silaturrahim lebih dalam antar sesama jama’ah.

Berkomunikasi dan berdiskusi tentang berbagai nasehat kebaikan, tauhid ma’rifatullah, akhaq, visi peradaban Islam dan lain sebagainya.

Tentu saja selama proses saling berkomunikasi dan silaturrahim ini biasanya suka ada timbul di hati jama’ah rasa ego sombong atau minder dikarenakan adanya perasaan memiliki kecemerlangan atau kekurangan dalam berpikir serta beranalogi di saat berdiskusi.

Artinya, ketika ego sombong dan minder itu muncul, maka syaitan telah berhasil kembali merasuk dan mulai merusak harmonisasi jiwa para jama’ah yang sudah Wuquf dan lempar Jumrah.

_*Wuquf di ‘Arafah* adalah proses mengenal diri dan mengenal Allah. Sedangkan *Lempar Jumrah* adalah proses mengenal musuh Allah. Dan *Mabit di Mina* adalah proses mengenal antara sesama manusia._

Dikarenakan para syaitan bisa kembali menggoda dalam proses berhablumminannas ini, yakni berhasil menghadirkan rasa sombong atau minder di sebagian hati para jama’ah, maka tak heran jika di siang harinya, para jama’ah diharuskan kembali melakukan proses Lempar Jumrah untuk mengusir syaitan, bahkan jumlah lemparannya lebih banyak (21 batu kerikil) dibandingkan Lempar Jumroh yang pertama (hanya 7 batu kerikil) di saat tanggal 10 Dzulhijjah.

Artinya, bisa jadi dosa-dosa kita dalam berhablumminannas adalah lebih banyak dibandingkan dosa-dosa kita dalam berhablumminallah. _Astaghfirullaahal’azhiim._

Intinya adalah bahwa proses perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan ini tidaklah cukup hanya dengan sekali rajaman, tapi harus berkali-kali, berulang-ulang, sampai sulit timbul rasa sombong, minder, sedih dan khawatir.

Adapun ucapan *Takbir* yang dilafalkan di saat melakukan proses melempar Jumrah hakikatnya bermakna *Ta’awudz* yakni permohonan perlindungan kepada Allah Yang Maha Besar dari godaan dan gangguan syaitan yang semakin melemah sebab dilempari batu.

_In syaa Allaah_, semakin kita berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang dilempari batu (dirajam/rojiim), maka semakin baiklah kualitas *taqwa* kita kepada Allah dan semakin baiklah kualitas *komunikasi* kita dengan sesama.

Al-Qur’an surat *Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):13*

_”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu *saling kenal-mengenal (Berkomunikasi)*. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling *taqwa* diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”_

_In syaa Allah bersambung ke part 6_

*www.Jlebb.com*

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *