- Artikel JLEBB

Pola NAPAS untuk MENDETEKSI kualitas HIDUP

“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ada tiga macam olahraga yang disarankan oleh Rasulullah Muhammad shlallaahu ‘alaihi wa sallaam, yaitu Berkuda, Berenang, dan Memanah. Setelah kami amati ternyata ketiga olahraga tersebut sangat terkait dengan pengaturan atau pengendalian napas. Yakni, kapan menerima napas, kapan menahan napas, dan kapan melepaskan napas, di situlah seni ketiga olah raga tadi. Artinya, secara tersirat ada pesan dari hadits tersebut bahwa “Hai umatku, aturlah napasmu”.

Ketika kita membaca Al-Quran pun, maka pengaturan napas harus sangat diperhatikan. Tidaklah boleh kita menerima, menahan, atau melepaskan napas seenaknya saja. Kita haruslah memperhatikan dimana ujung ayat, memerhatikan tanda washal, memerhatikan tanda waqaf, memerhatikan dengung, dan juga memerhatikan panjang pendeknya bacaan huruf di ayat-ayat Al-Quran tersebut.

Dalam kesempatan lainnya, Rasulullah Muhammad shlallaahu ‘alaihi wa sallaam melarang umatnya untuk MARAH. Karena ternyata marah itu mengacaukan peredaran darah sehingga mampu merusak kesehatan. Kacaunya peredaran darah dikarenakan orang yang sedang marah itu NAPASnya TIDAK TERATUR, napas para pemarah sangat berat dan terengah-engah. Jadi, kalau pun Anda terpaksa harus marah, maka perhatikan napas Anda, biarkan napas Anda teratur, tenangkan diri Anda, terima diri Anda, terima kenyataan yang ada, lalu marahlah dengan hati yang damai. Hehe, mampukah Anda tetap marah bila hati sudah damai?

Nah dari ketiga pelajaran di atas, yakni tentang OLAHRAGA, MEMBACA AL-QURAN, dan JANGAN MARAH, tersiratlah dengan jelas bahwa Anda disuruh untuk mengendalikan dan berdamai dengan napas Anda, Anda disuruh belajar tentang fenomena Napas, ya ada Rahasia apa dalam Napas Anda?

Kini, cobalah tarik napas yang dalam secara perlahan, lalu tahanlah 3 detik, dan hembuskanlah perlahan. Apa yang Anda rasakan? coba lakukanlah hingga tiga kali. Mana yang menurut Anda lebih nikmat, menerima udara, menahan udara, atau melepaskan udara?

Menarik napas adalah lambang dari MENERIMA, menahan napas adalah lambang dari MENAHAN, dan menghembuskan napas adalah lambang dari MELEPASKAN. Coba ulangi lagi proses bernapas Anda dengan kesadaran yang lebih rileks, dan rasakanlah Allah meliputi Anda dan apa yang Anda lakukan. Nah, setelah Anda ulangi berkali-kali, coba jawab pertanyaan saya sekali lagi, mana proses yang paling enak, apakah ketika MENERIMA, MENAHAN, atau MELEPASKAN?

Ya, bagi Anda yang merasakannya dengan baik, maka saya yakin mayoritas dari Anda menjawab ketika “Melepaskan”. Karena itulah jawaban mayoritas dari para audien training yang kami tanyakan langsung. Namun demikian, kita kadang tidak mudah untuk melepaskan karena kita terlalu ingin menahannya. Kadang kita juga tidak mampu melepaskan karena kita memang tidak pernah sungguh-sunguh menerimanya. Kadang kita pun sulit untuk rela melepaskan nyawa kita karena kita tak pernah benar-benar menerima kehidupan kita. Padahal puncak dari kenikmatan di dunia adalah ketika kita rela melepaskan napas terakhir kita dengan hati tenang sebab kita dalam keadaan bertaqwa, saat “puncak kenikmatan” itu maka semakin dekatlah kita kepada Allah, insya Allah. Nah sahabatku, proses melepaskan hanya terjadi bagi Anda yang ikhlas MENERIMA sepenuh hati, lalu MENAHAN apa yang Anda terima tersebut secukupnya.

Menerima itu penting. Seringkali orang beranggapan, disebabkan ia menikmati sesuatu maka sesuatu itu bisa ia terima di kehidupannya, padahal kenyataannya adalah justru disebabkan ia mau menerima sesuatu itu maka sesuatu itu menjadi nikmat baginya. Menerima adalah pintu kenikmatan.

Nah, lalu proses apa yang paling membuat Anda susah? Yup, tepat sekali, yaitu ketika Anda MENAHAN NAPAS terlalu lama. Yakni, menahan sesuatu yang sudah diterima dengan terlalu lama, berlebih-lebihan, alias kemaruk. Begitulah Sahabat Bernapas sekalian, bila Anda menahan sesuatu terlalu lama, maka hidup Anda akan susah dan menderita. Ada dua saat “menahan” yang terjadi, pertama : Menahan setalah Anda menerima, dan kedua : Menahan setelah Anda melepaskan. Dan Menahan setelah Anda melepaskan itulah yang disebut sebagai MENOLAK. Jadi, Menahan itu bisa berarti Menolak untuk Melepaskan, atau Menolak untuk menerima.

“Menahan setelah Anda menerima” biasanya terjadi karena Anda keenakan dengan sesuatu yang Anda tahan tersebut. Anda tidak ingin melepaskannya, bahkan Anda sudah menganggap bahwa sesuatu itu adalah milik Anda 100%. Anda berusaha total menguasai dan mempertahankannya.

Sedangkan “Menahan setelah Anda melepaskan” biasanya terjadi karena Anda tidak mau menerima sesuatu yang hadir di kehidupan Anda. Padahal Anda ingin berlepas dari sesuatu yang tidak Anda sukai itu, namun demikian ternyata satu-satunya cara agar Anda bisa terlepas dari apa yang tidak Anda sukai adalah dengan cara : “Anda harus terlebih dahulu menerima kehadirannya di kehidupan Anda”. Bagaimana mungkin kita bisa menghembuskan napas bila kita belum menghirup napas? Terimalah, maka Anda akan mudah untuk melepaskan, dan lepaskanlah maka Anda akan mudah untuk menerima, insya Allah. Bolak Balik Method.

Dengan demikian, melalui proses bernapas ini maka kita akan mendapatkan alur kehidupan, yaitu : Menerima – Menahan – Melepaskan – Menahan – Menerima – Menahan – Melepaskan – Menahan, dan seterusnya. Orang-orang yang cinta dunia hanya fokus kepada “Menahan – Menerima – Menahan”, padahal mereka hanya bisa optimal Menerima dan Menahan manakala mereka mau “Melepaskan” dengan tuntas.

wallahu a’lam

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *