- Motivasi, Solusi

Tamparan Tulisan Tembok

Baru saja, habis dzuhur tadi, waktu saya menikmati jalan kaki dari jalan besar ke rumah saya melewati tembok yang banyak coretannya…

Salah satu kalimat yang saya baca adalah “dasar bagong lu… ”

Jlebb. Yang saya heran hati saya kok terasa sedikit sakit ketika membacanya. Padahal lisan saya diam, hanya pikiran saya bergerak membaca.. Eh anehnya hati saya ikut tersentuh… Tepatnya tersetrum…tertampar… Why?

Di sini saya punya kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya yang membuat hati kita tersakiti adalah apa-apa yang kita pikirkan dan katakan. Sedangkan tulisan atau bacaan hanya sekedar alat-Nya.

Ketika saya mengatakan : “A…..g lu” maka kalimat tersebut adalah ungkapan sanubari saya atas diri saya yang menyimpulkan bahwa sayalah yang “a……g”.

Itu sebabnya semakin banyak saya mengkritik orang lain walau hanya di pikiran saya, belum sampai tahap mengatakannya, maka semakin sakitlah hati saya, semakin lukalah perasaan saya, semakin goyahlah jiwa saya.

Si penulis “dasar lu bagong” di tembok tersebut tentu tidak beniat menyakiti hati saya. Namun ketika sakit itu hadir maka jelaslah bahwa apa yang kita baca, apa yang kita tahu, apa yang kita yakini akan memengaruhi tentram atau galaunya qolbu kita.

Sebuah pelajaran yang berharga dalam hidup saya dari sang pencoret tembok-tembok keilhaman.

Sebab apapun yang terjadi di sekitar kita hanyalah alat Allah untuk mengajari kita tentang berbagai kebesaran-Nya. Tetaplah merendah dalam ketinggian-Nya sehingga ilmu dan ilham mengalir ke sanubari jiwa.

Salam,

About Kang Zain

Read All Posts By Kang Zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *