- Artikel JLEBB

TEKAD 49%, NEKAT 51%

Tidak ada di dunia ini yang terjadi Ke-betul-an, karena semua sudah pasti Ke-benar-an. Walaupun “betul” dan “benar” itu identik, tapi kebetulan bukanlah kebenaran, dan kebenaran bukanlah kebetulan .

Menurut Anda, apakah Anda termasuk orang yang bermental “nanti bagaimana?” atau bermental “bagaimana nanti”?

Coba renungkan… Apa jawaban Anda…

Mayoritas saham kehidupan kita dikuasai oleh Allah, namun Allah juga memberikan kita banyak keleluasaan untuk memilih. Artinya kita pun kebagian saham dari-Nya yang kelak di akhirat harus kita pertanggungjawabkan kepada-Nya.

Ibarat perusahaan, bisa dikatakan bahwa kita kuasai saham kehidupan kita sebesar 49%, sedangkan Allah menguasai kehidupan kita sebesar 51%. Allah sebagai pemegang saham mayoritas.

Artinya penentu eksekusi Akhir adalah Allah, terjadi atau tidak terjadinya sebuah peristiwa adalah atas izin Allah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan atas saham kita?

Di ranah saham kita yang 49% ini haruslah kita gunakan untuk berikhtiar sebaik mungkin dan merayu Allah dengan sungguh-sungguh agar DIA berkenan mengabulkan hajat kita.

“…. Tidak ada yang sanggup memberikan syafa’at/ pertolongan di sisi-Nya kecuali atas izin-Nya…” (QS. 2 : 255)

Artinya, segala sesuatu itu terjadi hakikatnya adalah karena adanya :

  1. Izin Allah
  2. Barulah kemudian izin dari diri kita

Itu sebabnya selain kita sibuk mengundang izin Allah untuk hadir dalam kesuksesan kita, maka kita pun harus mengizinkan diri kita untuk sukses bersama Allah.

Anda sakit hati bukanlah karena Anda disakiti orang lain, tapi Anda sakit hati karena Anda izinkan diri Anda untuk merasakan sakit hati.

Sedangkan Anda bisa sukses bukanlah karena dibantu oleh orang lain, tapi Anda bisa sukses karena Allah izinkan Anda untuk sukses dan tentunya Anda pun telah mengizinkan diri Anda untuk sukses.

“Kebaikan/Kesuksesan apapun yang datang kepadamu, itu dari Allah, sedangkan keburukan/kegagalan yang menimpamu, itu karena (izin/pilihan) dirimu sendiri…” (QS. 4:79).

Yuk kembali ke pertanyaan awal. Jadi, apa pilihan Anda, “Nanti bagaimana?” atau “Bagaimana nanti”?

Wilayah saham kita ada di “nanti bagaimana”, lalu kita serahkan kepada Allah eksekusi akhirnya dengan mental “bagaimana nanti” atau mental “terserah Allah” karena Allah pasti kasih kita yang terbaik dan teradil.

Dalam wilayah mental “nanti bagaimana?”, maka yang banyak bergerak adalah “Pikiran Sadar” yang melahirkan “Tekad” setelah berhitung secara matang tentang “bagaimana caranya?”.

Sedangkan dalam wilayah mental “bagaimana nanti”, maka yang banyak bergerak adalah “Pikiran Bawah Sadar” yang melahirkan “Nekat” dengan landasan rasa yang matang yaitu “bagaimana rasanya?”.

Ketika Anda sering bertanya ke diri sendiri “bagaimana caranya” tapi lupa mengimbangi dengan pertanyaan “bagaimana rasanya” maka Anda akan stres. Kenapa? Karena kekuatan pikiran bawah sadar itu jauh lebih kuat dari pikiran sadar. Itu sebabnya penting menghadirkan rasa sukses di awal sebelum menghadirkan cara untuk sukses.

Sering-seringlah bertanya “Bagaimana ya rasanya kalau saya sukses?” .. lalu barulah sesekali bertanya “Bagaimana ya caranya agar saya sukses?”.

“Cara” itu biasanya akan hadir mengalir sebagai Ilham atau intuisi yang baik dari Allah kepada orang-orang yang memiliki “Rasa” yang nyaman, dada yang lapang, yakni hati yang bahagia penuh syukur.

Tidak perlu menunggu datangnya sukses barulah Anda merasa bahagia, tapi berbahagialah maka Anda akan semakin sukses.

Tidak perlu menunggu bahagia barulah Anda bersyukur, tapi bersyukurlah maka Anda akan semakin berbahagia.

Wallahu a’lam

Salam Jlebb

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *