- Artikel JLEBB

TERNYATA ‘IDUL FITHRI BUKAN HARI RAYA KEMENANGAN MELAINKAN HARI RAYA KETENANGAN

Setelah 1 bulan penuh bebersih jiwa selama bulan Ramadhan, maka di 1 Syawal kita merayakan ‘Idul Fithri.

Sejatinya ‘Idul Fithri bukanlah perayaan kemenangan, sebab saat itu kita tidak sedang menang melawan syaitan; Why? karena saat itu syaitan kan sedang dibelenggu, dan juga bukan kemenangan melawan hawa nafsu ; sebab di saat bulan Ramadhan hawa nafsu sedang dilemahkan.

Merayakan ‘Idul Fithri pun hanya disunnahkan 1 hari, sedangkan merayakan ‘Idul Adha disunnahkan selama 4 hari. Takbir ‘Idul Fithri pun hanya disunnahkan sebelum sholat ‘Id, sedangkan takbir ‘Idul Adha hingga 4 hari lamanya.

‘Idul Adha lebih layak disebut sebagai hari raya kemenangan, sebab saat itu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam berhasil mengalahkan godaan syetan dan berhasil menundukkan hawa nafsu yakni kemelekatan cintanya kepada Ismail.

Dan endingnya, Allah ganti Ismail dengan seekor Kibas yang besar untuk disembelih lalu dimasak dan dimakan beramai-ramai.

‘Idul Adha adalah hari raya makan-makan dan berbagi daging hewan qurban ke sesama dan fakir miskin, inilah hari Raya yang penuh dengan kemenangan.

Berbeda dengan ‘Idul Fithri, yang mana kita hanya dikasih space 1 hari untuk merayakannya, bahkan disunnahkan untuk segera shaum Sunnah Syawal selama 6 hari.

Fithri memiliki makna membelah dan membuka. ‘Idul Fithri adalah hari raya berbuka. Fithri juga memiliki makna suci bersih. ‘Idul Fithri adalah merayakan tentang kebersihan jiwa kita.

Dan tentu saja cara terbaik merayakan jiwa yang telah dibersihkan adalah menikmati momen kebersihan jiwa itu selama mungkin, bukan malah mengotorinya kembali dengan Hubbud Dunya.

Itu sebabnya cukup sehari saja merayakannya dengan berbuka, lalu disunnahkan melanjutkannya dengan shaum Sunnah 6 hari, agar rasa bersih jiwa itu terjaga lebih lama, hingga setara setahun lamanya.

Berbuka dari puasa Ramadhan hakikatnya adalah Berbuka dari rasa benci, berbuka dari rasa kecewa, berbuka dari rasa marah, berbuka dari rasa gelisah, berbuka dari rasa takut, berbuka dari rasa khawatir, berbuka dari rasa sedih, berbuka dari rasa trauma, berbuka dari kekikiran dan berbuka dari berbagai keburukan jiwa lainnya.

Itu mengapa, orang yang mampu berbuka lahir batinnya, maka jiwanya akan menjadi tenang. ‘Idul Fithri memang layak digelari sebagai Hari Raya Ketenangan.

Salam

KZ

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *