- Inspirasi

VIRUS CORONA ITU LAWAN ATAU KAWAN?

MENURUT ANDA, VIRUS CORONA ITU LAWAN ATAU KAWAN?

Dalam beberapa kali sesi Seminar Parenting, saya sering bertanya kepada para ortu peserta seminar, “Gadget itu Lawan atau Kawan”?

Sebagian dari mereka menjawab “Lawan”, sebagian lagi menjawab “Kawan buat kami, Lawan buat anak2”, tapi ada di sebuah kesempatan, sedikit anak-anak yang ikut hadir menemani ortu mereka turut manjawab : “Kawaaaaan…..”

Lalu saya sampaikan kepada mereka bahwa hari ini kita sudah hidup di era peradaban industri 4.0, yakni Era IoT (Internet of Things) alias serba internet dan AI (Artificial Intelligence) alias kecerdasan buatan, maka Gadget tidak bisa ditinggalkan atau dijadikan lawan. Why?

Mari kita pahami apa itu peradaban. Gampangnya, peradaban itu adalah kumpulan pengetahuan dan keinginan mayoritas orang di dunia yang merealita menjadi habit dan budaya internasional.

Nah, bagaimana mungkin kita mampu bersendirian “Melawan Peradaban”? Melawan keinginan satu orang saja kadang kita sudah repot, apalagi melawan keinginan milyaran orang yang kita sebut peradaban?

Bukankah akan lebih cerdas bila kita merespon peradaban itu sebagai kawan dan bukan lawan? Sehingga kini pertarungannya bukan lagi bertanding berhadapan saling menjatuhkan antara ortu dan gadget, tapi berlomba saling mensupport dalam kebaikan, memperkuat ikatan batin kepada anak. Dan nanti akan kita lihat, mana yang lebih menarik bagi si anak, “Smartphone atau Smartparent?”

Nah, kini kita beralih ke kasus Corona. Karena tulisan ini memang bukan sedang membahas parenting.

Menurut Anda, Virus Corona itu Lawan atau Kawan? Atau LAWAN bagi orang jahat dan KAWAN bagi orang-orang baik? Atau Virus Corona itu Lawan bagi semua orang, sehingga perlu kita lahirkan jargon “Bersatu melawan Corona”?

Hal ini penting kita bahas supaya kita tidak plinplan menghadapi Corona. Kalau kita masih bingung memosisikan Corona itu Lawan atau Kawan, maka wajar kita jadi sering gelisah dan plinplan.

Mungkin saja sebagian dari sahabat ada yang mengatakan : “Kang Zain, jangan bahas Corona terus kang, kan dalam ilmu energi dan getaran tarik-menarik fisika kuantum, bila semakin dibahas akan semakin berkembang!”

Hal itu betul adanya kalau konteksnya masih lokal, yang sedikit nanti bisa meluas melalui sistem getaran. Tapi kalau konteksnya sudah luas, alias pandemik yang setara peradaban, maka perlu dibahas diperjelas secara positif thinking-feeling-belief, agar yang luas menjadi menyempit.

Berikut beberapa ayat Alquran dan sebuah hadits sahih sebagai rujukan utama pembahasan kita.

1. “Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. 43 : 62)

2. “Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Q.S. 17 : 53)

3. “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Q.S. 38 : 41)

4. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah (tha’un), maka beliau menjawab : “Bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah azab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah), (dan) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”. (Sahih H.R. Bukhori, An-Nasa’i, dan Ahmad).

Mari kita perjelas…

Penyakit yang diterima Nabi Ayub mungkin bukan Wabah, bahkan terkesan spesial untuk beliau sebagai rahmat dari Allah atas predikat kenabian beliau.

Tapi Nabi Ayub berkata bahwa penyakitnya itu karena perbuatan syaitan, ia diganggu oleh syaitan sehingga terkena penyakit yang membuatnya payah dan tersiksa.

Sedangkan Virus Corona sendiri asalnya dari mana masih belum pasti, apakah dari kelelawar, ular, atau buatan sekumpulan orang jahat yang sengaja ingin menguasai dunia dengan cara memusnahkan sebagaian manusia dan melemahkan ekonomi global melalui senjata biologis.

Namun, satu hal yang harus kita sadari bersama adalah, semua terjadi atas izin Allah, dan semua sudah seimbang dan alam semesta ini akan terus menjaga kesimbangannya. Allah tidak pernah zalim kepada siapa pun.

Lalu untuk menentukan sesuatu itu Lawan atau Kawan tinggal kita cek saja karakter dari Virus Corona, “Bersahabat dan Membantu”, atau “Menganggu dan Merusak”?

Sedangkan pada ayat-ayat yang saya sampaikan di atas, dapat kita pahami bahwa Syaitan itu adalah musuh atau lawan yang nyata bagi kita. Dan kata Nabi Ayyub, penyakitnya ini dikarenakan gangguan syaitan, dan penyakit itu tentunya sangat menganggu dan Merusak.

Bila kita lihat lebih teliti, ternyata banyak orang yang dipalingkan dari Allah oleh Virus ini, bahkan telah terjadi perselisihan antar manusia karena Virus Corona ini. Dan syaitan suka memalingkan manusia dari Allah, dan suka membuat manusia saling berselisih.

Berarti dapat disimpulkan bahwa Virus Corona adalah bagian dari Syaitan yang menganggu manusia, sehingga bisa dijadikan musuh bersama yang harus dihadapi.

Tapi kenapa dalam hadits di atas juga disebutkan bahwa wabah itu adalah rahmat bagi orang yang beriman?

1. Bagi orang yang beriman, tertusuk duri saja lalu bersabar, maka sudah menjadi penggugur dosa. Dan salah satu bentuk rahmat Allah adalah gugurnya dosa-dosa kita. Padahal itu cuman tertusuk duri.

2. Ketika kita berperang melawan orang kafir yang jahat terhadap kita, lalu kita ditakdirkan mati, maka matinya dihitung syahid. Mati Syahid adalah Husnul Khatimah tingkat tertinggi. Bahkan, semua yang melekat padanya suci, tidak perlu dimandikan lagi, tapi langsung dikuburkan bersama darah yang keluar.

3. Kini kita sedang berperang melawan Virus Corona. Manakala kita sudah do the best, dan tetap sabar di rumah di antara serangan wabah, dan kita yakin Allah sudah punya ketentuan terindah, lalu kita tetap hidup atau bahkan mati, maka kita dihitung seperti mati syahid sebab dalam keadaan perang melawan para Virus. Tapi tentunya jasadnya tetap harus dimandikan sebelum dikuburkan, karena pernyataan di hadits adalah “seperti mati syahid”, jadi pahalanya saja yang sama, namun ritual pengurusan jenazahnya tetap seperti mati dalam keadaan biasa.

Nah itu sebabnya, Virus Corona adalah musuh bersama yang bisa menjadi rahmat bagi orang-orang beriman yang sabar, karena Virus Corona ini bisa menggugurkan dosa-dosa, mempererat silaturrahim keluarga, dan memberikan pahala seperti mati Syahid bagi yang bersabar tetap berada di rumah dengan penuh keyakinan dan husnuzhan kepada Allah.

Demikian penjelasan yang bisa saya sampaikan, mohon maaf apabila kurang berkenan. Saya tentunya masih berpeluang salah dalam menyimpulkan.

wallahu a’lam

KZ

www.jlebb.com

Please follow and like us:
error

About kang zain

Sejak 2001 bergerak di bidang pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), dan sejak tahun 2006 memfokuskan diri bergerak di bidang pelatihan SDM yang berbasis Motivasi Spiritual, yaitu Spiritual Character Building.
Read All Posts By kang zain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *